Manado – Perekonomian Sulawesi Utara (Sulut) menorehkan prestasi gemilang sepanjang 2025 dengan pertumbuhan mencapai 5,66 persen, melampaui laju nasional yang hanya 5,11 persen.
Tren positif ini diperkuat kontribusi Sulut terhadap perekonomian nasional yang konsisten naik selama tiga tahun terakhir, dari 0,82 persen menjadi 0,86 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut, Joko Supratikto, menyampaikan data tersebut saat Refreshment Wartawan & Kick Off 3rd Festival Jurnalistik Tahun 2026 di Kantor BI Sulut, Kamis (26/2/2026).
Acara ini menjadi panggung strategis untuk menggarisbawahi momentum pemulihan ekonomi pasca-pandemi.
“Dari sisi permintaan pada Triwulan IV 2025, pertumbuhan Sulut didorong oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga sejalan dengan momentum HBKN dan libur akhir tahun. Selain itu, investasi juga mengalami peningkatan terutama dalam penanaman modal asing dari negara Singapura,” ujar Joko Supratikto.
Menurut Joko, peningkatan konsumsi rumah tangga mencerminkan daya beli masyarakat yang kuat, didukung perayaan Hari Belanja Nasional (HBKN) dan libur panjang akhir tahun.
Sementara itu, aliran Penanaman Modal Asing (PMA) dari Singapura menjadi katalisator utama investasi, menandakan kepercayaan investor terhadap potensi Sulut sebagai gerbang ekonomi timur Indonesia.
Dari sisi lapangan usaha, sektor transportasi mencatat pertumbuhan signifikan berkat lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara.
Hal ini seiring pembukaan rute penerbangan internasional baru dari Bandara Sam Ratulangi ke Shanghai, Shenzhen, dan Korea Selatan.
“Perekonomian Sulawesi Utara ditopang oleh pertumbuhan signifikan yang terjadi pada sektor transportasi dengan kunjungan wisatawan mancanegara yang meningkat,” tambah Joko, menekankan multiplier effect pariwisata terhadap sektor akomodasi, kuliner, dan ritel.
Data BI menunjukkan, kontribusi sektor pariwisata dan transportasi tidak hanya mendorong PDB regional, tapi juga memperlebar basis ekspor melalui konektivitas udara yang lebih luas.
Proyeksi 2026 optimistis dengan target pertumbuhan di atas 5,5 persen, andalkan infrastruktur dan diversifikasi ekspor komoditas unggulan seperti kakao dan perikanan.
Prestasi ini menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha di Sulut untuk mempercepat ekspansi, sekaligus dorongan bagi pemerintah daerah guna mempertahankan momentum melalui kebijakan pro-investasi.
























