Gara-gara Gaji Tak Dibayar, Para Tukang Nekat Membongkar Bangunan SD Katolik Kiawa

SD Katolik Kiawa
SD Katolik Kiawa

Minahasa – Kecewa karena upah kerja tak dibayar selang enam bulan berjalan oleh pihak Sekolah Dasar (SD) Katolik Kiawa, Kecamatan Kawangkoan Utara, sejumlah buruh pekerja membongkar sebagian bangunan, di sekolah tersebut.

Dari hasil pantauan media ini, Selasa (17/06), bagian bangunan yang dibongkar yakni jendela pada tiga bagian bangunan sekolah, yang menjadi pekerjaan rehab mengunakan dana Block Grand Tahun 2013 silam, dengan anggaran mencapai Rp 138 juta.

Mewakili para pekerja, Jerry Simbawa, Kepada sejumlah media mengatakan, pembongkaran ini terpaksa dilakukan pihaknya, sebagai bentuk protes karena pihak sekolah, yang dalam hal ini mantan Kepala SD Katolik Kiawa, tak kunjung membayar upah mereka sejak enam bulan lalu.

“Hingga kini, pihak sekolah tak kunjung menepati janji. Mantan Kepala SD Katolik Kiawa terkesan lepas tangan. Makanya terpaksa kami melakukan ini (pembongkaran, red),” terangnya.

Simbawa menduga, oknum mantan Kepala SD Katolik Kiawa, berinisial TR alias Theresia, telah menyalah gunakan dana Block Grand tersebut, sehingga tak mampu lagi melunasi hutang.

“Selama mengerjakan pembangunan rehab gedung sejak Oktober hinga selesai pada November 2013 lalu, kami baru menerima uang Rp 15 juta. Sementara, bangunan telah kami selesaikan 100 persen menggunakan uang kami. Kepsek berjanji, akan membayar dalam tiga tahap pencairan, namun itu tidak direalisasi,” ujarnya.

Menurut Simbawa, terkait kasus ini, pihaknya telah melaporkannya ke Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Minahasa, di Kawangkoan dan pihak Kepolisian setempat, namun sampai saat ini belum ada titik temu.

“Kami akan melanjutkan pembongkaran bangunan, yang masuk dalam bestek Block Grand, seperti plafon, atap bangunan, pintu dan kosen, bila hak kami ini tak kunjung dilunasi,” ujarnya.

Sementara, Kepala SD Katolik Kiawa, Maria Terok, ketika dikonfirmasi menuturkan, pihaknya tidak mengetahui pasti proyek pekerjaan tersebut. Dirinya mengaku, baru dua bulan menjabat sebagai Kepsek menggantikan Kepsek sebelumnya, karena dipercayakan Dikpora Minahasa.

“Pekerjaan itu dilakukan waktu saya belum menjabat. Jadi saya tidak tau pasti hal ini. Kejadian ini, sudah saya laporkan ke pihak yayasan, UPTD Dikpora Kawangkoan dan Kepolisian. Saya berharap, tidak ada pembongkaran bagian sekolah, karena akan berdampak buruk pada proses belajar-mengajar siswa,” tuturnya.

Pihak yayasan sendiri, melalui pembantu Pastor Paroki Sonder, Gerardus Knaofmone OCD, saat dimintai keterangan mengenai kasus ini mengaku, pihaknya sempat melakukan mediasi antara kedua belah pihak yang bermasalah, namun tidak mengalami titik terang.

“Kami sempat melakukan mediasi kedua belah pihak yang bermasalah, namun hasilnya nihil. Memang selama ini kami tidak mencampuri masalah bantuan dan setiap dana yang masuk ke pihak sekolah. Pihak Paroki telah memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada pihak sekolah, untuk dikelola dengan sebaik mungkin sesuai mekanisme yang ada. Kami berharap kasus ini bisa segera terselesaikan agar proses belajar mengajar kembali normal,” ungkapnya.(fernando lumanauw)

Tinggalkan Balasan