Minahasa – Bupati Minahasa Drs Jantje Wowiling Sajow MSi bersama isteri tercinta Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Minahasa DR Olga Sajow Singkoh MHum, menghadiri acara pergelaran Budaya Katombuluan dan Budaya Etnis Sangihe dan Talaud pada perayaan Adat Tulude, yang dilaksanakan Badan Musyawarah Masyarakat Tombulu (Paheluman Ne Tombulu), di Desa Poopoh Kecamatan Tombariri, Selasa (31/01)
Kedatangan JWS dan isteri jajaran pejabat Pemkab Minahasa ini kemudian disambut secara adat. Adapun ritual yang dilewati yakni, Bupati JWS yang digelari Kolano Petor Un Tana dipersilahkan duduk di tempat duduk yang telah disediakan, kemudian Matindas menyerahkan bambu atau Aweian berisi air yang diambil dari sumur atau Parigi Pingkan dan diserahkan kepada Pingkan. Pingkan kemudian menyampaikan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa seorang Kolana Petor diberkati-Nya, sambil membasuh kedua kaki Kolana Petor dan di usap-usap tiga kali kedua kaki dengan ungkapan kata Filosofi leluhur Minahasa “Wahu Nae, Wahu Kero’an yang artinya basah kaki basah tenggorokan, yang menggambarkan simbol bagi warga Minahasa, basah kaki pertanda bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum.
Sesudah itu Kolano Petor dipersilahkan berdiri dan menerima Tawang dari Matindas bahwa Tawaang yang diserahkan sebagai tanda bagi seorang Pemimpin yang akan menetapkan keputusan pada tanda batas sebagai simbol batas tanah yang ditetapkan sebagai aturan menurut peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Selanjutnya, acara ritual ada Tulude menjemput Kolano Petor selaku “Timade”.
Usai disambut dengan ritual tersebut, Kolano Petor kemudian dipasangi baju dan topi adat serta pengalungan selendang kepada isteri Kolano Petor, kemudian diiring tarian mempersilahkan tamu kehormatan masuk bangsal sukacita dan naik panggung kehormatan.
Upacara kemudian dilanjutkan dengan panggilan acara Adat Tulude, yang ditandai dengan pemukulan untuk membunyikan Tetengkoren. Acara ini ditandai dalam bentuk ibadah syukur yang didalamnya juga ada prosesi kue adat memasuki bangsal acara, dimana Kue Adat Tamo Makna Tulude dan Kue Adat Tamo memasuku diiringa Kapitang Bisara dan adapula pemotongan kue adat tamu tersebut.
Sementara, sebelum tiba JWS dilokasi acara bersama rombongan, upacara adat sudah dimulai lebih dahulu dengan persiapan sejak pukul 08.00 Wita. Dimana kelompok Kabasaran menjemput Pemeran Pingkan dan Matindas di salah satu lokasi diluar Desa Poopoh, kemudian diantar secara arak-arakan dan menuju Parigi Pingkan dan Matindas, secara adat ritual mengambil air sumur dimasukkan dalam bambu bentuk Aweian oleh Tonaas Umbanua atau Panendon Tu’a (Hukum tua, red) Ranowangko Deitje Kusoy dan diserahkan kepada Matindas, sesudah itu menuju ke lokasi Batu Opo Sumanti mengambil mengambil Pohon Kayu Tawaang dan diserahkan kepada Matindas pula.
Pingkan dan Matindas secara arak-arakan kemudian menuju Desa Poopoh. Tiba di Desa ini, rombongan Pingkan dan Matindas kemudian dijemput lagi oleh Kabasaran. Selanjutnya, tepat pukul 10.00 Wita, rombongan Bupati JWS atau Kolana Petor Un Tana tiba dan disambut secara adat.
Ibadah syukur ini dipimpin Sekretaris Departemen Pengembalaan Sinode GMIM Pdt Teddy Kansil MTh dan mengambil pembacaan dalam Alkitab di Kitab Hakim-hakim 2:6-7, 10-14.(fernando lumanauw)




















