Tomohon – Kekayaan sumber daya alam di Kota Tomohon sebagai dearah penghasil ternyata sangat ironi ketika didapati masyarakat selalu mengeluhkan pemadaman lampu oleh PLN. Padahal Panas bumi yang dihasilkan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Lehendong pun dibeli PT PLN untuk menghasilkan energi listrik.
“Tomohon langganan pemadaman lampu.Seharusnya sebagai penghasil energi untuk pembangkit
listrik, Tomohon tidak krisis listrik seperti ini,” keluh Ivana warga Kakaskasen.
Ivana mengaku, aktivitasnya sehari-hari sangat terganggu karna seringnya PLN Suluttenggo
“memilih” Tomohon sebagai salah satu area yang harus dipadamkan jalur listrinya.
“Tidak tahu ini hanya kebetulan atau tidak, saat di rumah saya mati lampu dan saya
menanyakan kerabat saya yang tinggal di Tondano, mereka mengatakan listrik mereka masih
menyala. Dan saya perhatikan, jadwal pemadaman lampu, lebih banyak di Tomohon dibanding
tempat saudara saya tersebut. PLN harus menjelaskan bagaimana ini terjadi. Saya sudah
bosan hampir tiap hari mati lampu,” ketus Ivana.
Sekda Kota Tomohon, dr Arnold Poli saat dimintai tanggapan mengenai hal ini mengatakan
pihaknya sudah berkoordinasi kepada PLN mengenai pemadaman lampu ini.
“Sesuai informasi memang ada gangguan di PLTU Amurang serta ada pemeliharaan mesin yang
bersamaan yang tidak bisa dihindari. Ini terjadi se-Sulut.Masyarakat saya himbau untuk
bersabar dan menyikapi bijak akan hal ini karena memang tak bisa dihindari,” kata Poli.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pasokan daya listrik di wilayah Sulut kini mengalami
krisis. Sebab dalam satu malam saja, PLN kekurangan daya hingga mencapai sekitar 40 Mw.
Kemarau yang sudah berlangsung selama dua bulan juga menjadi salah satu sebab tidak
maksimalnya produksi listrik di wilayah Sulut. Sebab, tiga unit PLTA di Minahasa sangat
tergantung dari debit air Danau Tondano, yang saat ini sedang kurang akibat kemarau.
Jika kondisi debit air Danau Tondano sedang normal, PLTA tersebut bisa menghasilkan daya
45 Mw, tetapi saat ini hanya bisa sampai 31 Mw. Sementara itu kurangnya pasokan uap dari
Pertamina Geothermal membuat PLTP Lahendong III yang seharusnya menghasilkan 20 Mw, kini
hanya bisa memproduksi 13 Mw saja.
Total produksi empat unit PLTP Lahendong yang biasanya bisa menghasilkan 75 Mw, kini
hanya 68 Mw saja. Kekurangan pasokan listrik di Sulut tersebut diperparah lagi dengan
kondisi PLTU Amurang yang berkekuatan 50 Mw tidak maksimal beroperasi.
Satu unit sedang dalam pemeliharaan rutin dan satu unit lagi mengalami kerusakan. Kondisi
ini membuat PLN tidak punya pilihan selain harus memadamkan listrik secara bergiliran.
(maria wolajan)




















