
Tomohon – Cuaca panas dan kering turut dirasakan masyarakat Indonesia sejak Mei hingga saat ini. Kondisi ini disebabkan karena adanya perubahan cuaca, dari musim hujan ke musim kemarau. Lahan kering dan kebakaran hutan akan dijumpai selama beberapa bulan ke depan.
Peringatan itu diungkapkan Ketua Pelaksana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kota Tomohon Drs Robby Kalangi SH.
“Musim kemarau di Indonesia ini mungkin akan berkepanjangan, karena pengaruh dari badai El Nino. Kekeringan makin menjadi, dan bahaya kebakaran harus kita waspadai dan antisipasi sedini mungkin untuk mencegah timbulnya kerugian harta benda dan yang lainnya. Gejala ini bukan sesuatu yang baru, tetapi memang sudah musimnya. Oleh karena itu Pemerintah Kota Tomohon menghimbau dan mengajak kepada seluruh masyarakat Tomohon untuk jeli dalam menghadapi suasana kekeringan yang dampaknya sangat luas,” kata Kalangi.
Khusus untuk menjaga ketersediaan sandang, pangan, dan papan maka masyarakat Tomohon harus melakukan upaya-upaya untuk menjaga ketersediaan kebutuhan pangan dengan melakukan penanaman tanaman pangan yang tahan panas atau melakukan penanaman bahan pangan dengan melakukan kegiatan penyiraman agar tanaman yang diusahakan dapat tumbuh untuk menjamin dan mengantisipasi kebutuhan pangan di masa yang akan datang seiring dengan musim kemarau.
Untuk memenuhi kebutuhan air melaui mobil tangki PDAM Tomohon masyarakat bisa menghubungi nomor 085240299920 meskipun PDAM mengirimkan air dalam kapasitas yang tidak begitu banyak dan disesuaikan dengan kondisi saat ini akibat menurunnya sumber air PDAM yang mencapai 40 persen.
“Untuk jangka panjangnya tentu sangat diharapkan kesadaran manusia itu sendiri. Contohnya perlu pengelolaan lingkungan yang komprehensif caranya membangun sumur resapan, irigasi dan penataan air. Menghadapi situasi tersebut, Dinas Pertanian juga mengimbau kepada para petani agar menanam tanaman tahan kering. Kalau masih ada air yang bisa dipompa, kita akan silahkan gunakan itu. Tapi, kalau sudah benar-benar kering, kita imbau untuk tidak memaksa menanam padi, tetapi beralih menanam komoditas yang tidak membutuhkan banyak air, yakni jagung atau kedelai dan sejenisnya,”kata Kabag humas FF Lantang SSTP.(maria)


























