Tomohon – Setelah satu dekade, ketenangan kampus Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) kembali beriak. Kali ini dipicu keluarnya SK Yayasan GMIM Ds A Z R Wenas yang memberhentikan sementara Yoppy A T Pangemanan SPd MM sebagai Rektor UKIT tertanggal 30 Agustus 2016.
Dari penjelasan pihak yayasan, sesuai dengan SK No 244/YGAZRW.PT/8-2016 tentang pembebasan sementara dari tugas jabatan Rektor UKIT, Badan Pengurus Yayasan GMIM Ds AZR Wenas menimbang sebagai badan hukum yang bertanggung jawab dalam penyelenggaran dan berwenang memberhentikan dan menetapkan Rektor UKIT, bahwa Rektor UKIT yang dijabat Yopie AT Pangemanan sedang dalam penyelesaian ijazah Magister Manajemen di pangkalan data perguruan tinggi Kemenristek Dikti. Dari penjelasan tersebut juga terungkap jika pemberhentian sementara Pangemanan sesuai perintah dari pembina yang merupakan pemilik UKIT yaitu BPMS GMIM.
Tak terima hal ini, ratusan mahasiswa yang dinaungi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UKIT dan Lembaga Advokasi UKIT turun ke jalan meminta penjelasan langsung dari pihak BPMS GMIM, Rabu (31/08/2016).
“Saya sebagai mahasiswa UKIT juga sebagai warga GMIM tak mau jadi korban elit atau oknum petinggi GMIM seperti 10 tahun lalu. USaya sangat kecewa, saya sangat bersedih karena gereja saya, diduduki oleh sejumlah oknum petinggi GMIM yang mengeruk keuntungan untuk pribadi mereka sendiri,” teriak Sekjen BEM UKIT Valdo Woruntu yang juga mahasiswa Fakultas Teologi semester VII dengan lantang namun di ujung suara terdengar emosi saat dirinya berteriak sambil bercucur airmata saat mengungkap kekecewaannya.
Valdo pun mulai mengurut satu per satu “dosa” dari beberapa elit GMIM yang menurutnya sudah nyata terjadi.
“Mengapa jendral kami di Kampus UKIT tiba-tiba diganti? Kenapa? Apa karena bapak Rektor punya inisiatif untuk menyatukan UKIT namun ditentang oleh sejumlah petinggi di Gedung Putih ini (Kantor Sinode-red),” teriak Valdo dengan lantang.
Valdo pun kemudian menyentil soal dugaan “Pelacuran Akademik” di kampus UKIT.
“Di tata gereja diatur soal rangkap jabatan yang tidak diperbolehkan namun kenyataanya ada tiga nama yang menjadi pembina dan pelaksana yang betentangan dengan UU yayasan,” ujar Valdo yang kemudian disambut teriakan ratusan mahasiswa lainnya.
“Kami menginginkan agar segera memberhentikan Direktur dan Kaprodi Pasca Sarjana UKIT Ds AZR Wenas karena telah melanggar prosedur dengan mengeluarkan ijazah tanpa ditandatangani oleh Rektor Yoppy A T Pangemanan sehingga berdampak sampai pada hukum pidana karena melanggar UU,” sembur Valdo.
Petisi lainnya yakni meminta pihak Sinode GMIM untuk sesegera mungkin menindaklanjuti kesepakatan yang dibuat bersama di hadapan Kopertis Wilayah Sulawesi IX tanggal 22 Juni 2016 yaitu hanya ada satu UKIT di bawah kepemimpinan Yoppy AT Pangemanan SPd MM yang otomatis menyatu menjadi UKIT Ds AZR Wenas.
“Kami juga meminta agar Sinode GMIM transparan soal keuangan dan aset. Bersihkan lembaga gereja ini dari para koruptor,” tuntut Valdo yang didukung yel-yel mahasiswa lainnya.
Demo yang dinamakan aksi solidaritas ini dimulai dari kampus Talete bergerak menuju Kantor Sinode GMIM yang dikawal oleh aparat kepolisian. Mahasiswa memaksa masuk ke halaman gedung namun tak diberi izin. Mereka pun tak kalah arang sambil menuntut BPMS GMIM untuk menemui mereka.
Setelah valdo, ada sejumlah orator dari mahasiwa UKIT dengan lantang dan bersemangat menuntut agar pihak Sinode GMIM menerima tuntutan mereka.
Setelah “diancam” dengan sejumlah dugaan penyimpangan akhirnya Sekum Pdt Hendry C M Runtuwene STh MSi turun menemui para mahasiswa yang berorasi sekitar satu jam.(mar)





















