Makan Siang Santai Penuh Makna, Boyke Rompas Rayakan 2 Maret di Tengah Isu Terkini NKRI

Manado – Suasana hangat dan santai menyelimuti salah satu ruangan ber-AC di rumah makan ternama kawasan Paniki Mapanget, Kota Manado, Senin (2/3/2026) siang.

Ketua Umum Yayasan Permesta Sejahtera Indonesia (YPSI) Boyke Rompas menjamu sejumlah wartawan dalam makan siang istimewa.

Hadir pula pengamat politik dan pemerintahan Taufik Tumbelaka, putra Gubernur pertama Sulawesi Utara sekaligus pengurus YPSI, menambah bobot diskusi yang sarat makna.

“Perayaan kecil-kecilan untuk memperingati peristiwa 2 Maret,” ungkap Rompas ringan, sambil menyantap hidangan khas Sulut.

Tanggal bersejarah ini dirayakan para pejuang, anak-cucu, dan simpatisan sebagai Hari Proklamasi Permesta pada 2 Maret 1957, perjuangan heroik menuntut pemerataan pembangunan di tanah air dan pembubaran PKI.

Namun, bincang santai ini jauh dari nostalgia romantis masa lalu.

Rompas, mantan birokrat ternama Pemprov Sulut, justru menegaskan bahwa cita-cita Permesta telah terwujud melalui otonomi daerah saat ini, sementara PKI sudah lama dibubarkan.

Fokusnya bergeser ke kontribusi positif bagi NKRI.

“Kita harus berkontribusi nyata untuk bangsa,” tegasnya.

Diskusi mengalir deras membahas kondisi sosial masyarakat, dinamika politik nasional hingga daerah, serta isu geopolitik terkini.

Analisis Rompas yang mendalam dan presisi, dari tantangan ekonomi hingga stabilitas keamanan, memukau semua yang hadir.

Taufik Tumbelaka menambahkan perspektif historis, menekankan warisan Permesta sebagai fondasi persatuan.

Momen ini bukan sekadar makan siang, tapi panggilan untuk generasi muda terus berjuang demi Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.

Seperti kopi yang disajikan usai makan, diskusi ini pahit-manis, tapi meninggalkan rasa optimisme.

Diketahui, Yayasan Permesta Sejahtera Indonesia (YPSI) telah memiliki kekuatan SK Menteri Hukum RI No. AHU – 0019833.AH.01.04. Tahun 2024.

Boyke Rompas bergerak membentuk YPSI karena terpanggil untuk memberi diri.

Ia merangkul beberapa teman yang memiliki semangat yang sama tapi dengan catatan tidak ada aroma kepentingan politik serta muatan kepentingan pribadi.

Hanya semangat pelayanan kasih kepada masyarakat dengan fokus awal kegiatan kepada keluarga dari para pelaku Permesta.

“Nama Permesta sangat mahal karena tumbuh dari semamgat perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa,” tegas Boyke Rompas, yang bersama YPSI telah turun menyalurkan belasan ton beras premium kepada masyarakat kurang mampu di Sulawesi Utara.

Yayasan Permesta Sejahtera Indonesia berkantor di kawasan perkantoran bergengsi di Kota Manado dengan motor utama Boyke Rompas, SH sebagai Ketua dan putera Komandan Batalyon F, Beto Umboh, Frederik Anderson Umboh, SH, MP, mantan pejabat senior Pemprov Sulut dipercayakan sebagai Sekretaris Yayasan.

Posisi sebagai Pengawas Yayasan dipegang oleh mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa Utara, Johanis Jantje Rumambi.

Dalam yayasan tergabung pula Taufik M Tumbelaka, putera bungsu mantan Gubernur pertama Sulut, FJ ‘Broer’ Tumbelaka yang dikenal salah satu figur utama dibalik penyelesaian peristiwa pergolakan melalui Permesta Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi dan beberapa sosok lainnya yang bergabung dalam Yayasan Permesta Sejahtera Indonesia.

Redaksi kami mencatat, sosok Ayahanda Ketua Yayasan Permesta Sejahtera Indonesia, Boyke Rompas, SH, merupakan Tokoh Permesta, alm. Mayor Nyong yang memiliki Bintang Gerilya dari Presiden – Panglima Tertinggi Soekarno.

Mayor Nyong Rompas berkiprah sebagai Perwira di Brigade XVI Jawa Timur dan Batalyon Worang Gunung Kawi Jawa Timur serta Perwira 702, Dan Kie Wirabuana Makassar saat sebelum peristiwa ‘pergolakan’ Permesta pada tahun 1957 hingga penyelesaian ‘perdamaian’ Permesta Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi pada 1961.

Mayor Nyong Rompas juga adalah eks Komandan Resimen Pemuda Minahasa Tengah dalam penumpasan PKI di Minahasa, Sulawesi Utara.

Pasca penyelesaian Permesta Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi, para tokoh Permesta antara lain AE. Kawilarang, DJ. Somba, Abe Mantiri serta Nyong Rompas, Beto Umboh dan para Tokoh Permesta yang terkait dengan penyelesaian melalui Permesta Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi dan pasukannya memperoleh Rehabilitasi dan Abolisi dari Presiden Soekarno melalui Kepres Nomer 322 tahun 1961.

 

Tinggalkan Balasan

News Feed