Bitung- Jalanan si hampir seantero kota Bitung, Senin (02/02) praktis tak ada angkutan kota (angkot). Hal ini dikarenakan para sopir angkot melakukan aksi mogok dan demo di kantor DPRD dan kantor walikota.
Para sopir menuntut pemerintah kota untuk membatalkan tariff angkot yang saat ini berlaku yakni, Rp 3.100 dan meminta agar dinaikan menjadi Rp 3.500.
Akibatnya, ratusan bahkan ribuan penumpang terlantar di pagi hari. Menyikapi aksi para sopir angkot tersebut, pemerintah kota Bitung dalam hal ini, Dinas Perhubungan menurunkan 2 bus milik mereka untuk mengangkut penumpang.
Tidak hanya itu, kendaraan operasional jenis truk milik Satuan Polisi Pamong Praja, juga dikerahkan untuk mengangkut penumpang yang terlantar dijalan, terutama para karyawan swasta, PNS dan pelajar SMP dan SMA. Aksi mogok dan tuntutan para sopir tersebut mendapat tanggapan dari berbagai elemen masyarakat.
Salah satunya, Didi Hansye Mutahang. Aktivis SPSI Bitung tersebut meminta agar pemkot lebih menunjukan kewibawaan dengan tidak mengiyakan tuntutan para sopir tersebut karena dinilai terlalu mengada-ada.
“Dulu harga BBM sama seperti sekarang, tariff angkot sesuai SK walikota Rp 2.700. Oleh sopir dibulatkan Rp 3.000, masyarakat tidak complain. Sekarang para sopir justru minta kenaikan. Walikota jangan sembarang mencabut SK yang sudah ada,” tandas Mutahang. Aksi mogok para sopir angkot tersbut kabarnya akan dilakukan selama 3 hari. (hezky)


























