
Manado – Pertumbuhan ekonomi (PE) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) di triwulan III tahun 2013 tumbuh di atas angka nasional.
“Pada triwulan III tahun 2013 PE Sulut tumbuh sebesar 7,46 persen yakni lebih tinggi dari nasional yang hanya 5,62 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Faizal Anwar kepada sejumlah wartawan, Rabu (6/11) di Kota Manado.
Menurut Faizal, pertumbuhan terbesar terjadi pada sektor perdagangan, hotel dan restoran yang tumbuh sebesar 9,28 persen.
“Faktor lain yang merupakan sumber pertumbuhan ekonomi Sulut yakni sektor pengangkutan dan komunikasi 7,97 persen, sektor jasa-jasa 6,31 persen, sektor konstruksi 5,85 persen, sektor listrik,gas dan air 4,97 persen, sektor keuangan real estate 4,20 persen, sektor pertambangan dan galian 4,16 persen, sektor industri pengolahan 3,78 persen serta sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan 2,98 persen,” katanya.
Dia mengatakan PE Sulut yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto triwulan III tahun 2013 5,92 persen dibandingkan triwulan II tahun 2012 dan jika dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2012 meningkat 7,46 persen.
“Secara riil, bila dibandingkan dengan triwulan II tahun 2013, seluruh komponen PDRB menurut penggunaan tumbuh positif,” katanya.(Nancy)
Berita kedua Pake foto; mencari pekerjaan
Sulut Koleksi 67,7 Ribu Pengangguran Manado, CSnews- Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengoleksi 67,7 ribu pengangguran hingga bulan Agustus 2013.
Menurut Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut hingga posisi bulan Agustus 2013 jumlah pengangguran di Sulut masih sebesar 67,7 ribu orang.
“Tingkat pengangguran terbuka di Sulut meski mengalami penurunan namun jumlahnya masih cukup besar,” kata Kepala BPS Sulut, Faizal Anwar.
Kata Anwar, tingkat pengangguran pada keadaan Agustus 2013 sebesar 6,68 persen mengalami penurunan sekitar 1,11 poin dibanding posisi yang sama tahun lalu.
Lanjut ia katakan, daerah perkotaan masih menjadi kantong pengangguran ditunjukkan dengan tingkat pengangguran terbuka yang mencapai 8,17 persen dibandingkan pedesaan yang 5,40 persen.
“Secara absolut 38,2 ribu orang pengangguran di perkotaan dibanding 29,5 ribu orang di pedesaan,” katanya.(Nancy Tigauw)




















