Bakal Calon Malu-malu Kucing, Incumbent Vs “Kotak Kosong” Berpeluang Terjadi di Pilkada Minahasa 2018

Meksi Sahensolar
Meksi Sahensolar

Minahasa – Fenomena Petahana atau Incumbent melawan “Kotak Kosong” atau juga calon tunggal yang hanya dipilih dengan “Setuju” atau “Tidak Setuju”, sebagaimana diatur dalam Undang-undang nomor 10 tahun 2016 Pasal 54c tentang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia pada Pilakda serentak 15 Februari 2017, nampak berpeluang pula terjadi di Minahasa, pada Pilkada serentak tahun 2018 mendatang.

Hal ini dimungkinkan mengingat, hingga kini belum ada satupun bakal calon Bupati yang mensosialisasikan diri di Minahasa secara terbuka dan terang-terangan tampil ditengah masyarakat, selain Drs Jantje Wowiling Sajow MSi yang notabene adalah Petahana atau Incumbent.

Ini tentu jauh berbeda dengan Pilkada Minahasa periode sebelumnya, dimana bakal calon yang berambisi merebut kursi orang nomor satu di Minahasa nampak berhamburan, bahkan telah mensosialisasikan diri jauh sebelum genderang Pilkada ditabuh.

Padahal, sejumlah peristiwa yang terjadi belakangan ini, seperti bencana alam banjir dan tanah longsor, dapat dijadikan salah satu moment pas untuk menunjukkan kepedulian diri pada masyarakat, sekaligus mensosilisasikan diri akan maju di Pilkada Minahasa 2018.

Apakah karena bakal calon ini tak mampu bersaing dengan Petahana?, ataukah tak ingin menjadikan bencana yang dialami warga tersebut sebagai wadah mengangkat diri untuk maju sebagai papan satu bakal calon Bupati Minahasa periode 2018-2023, ataukah mereka punya strategi lain?.

Salah satu pemerhati politik di Minahasa, Meksi Sahendolar berujar, tak ada salahnya bila masyarakat mengait-ngaitkan bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di sejumlah wilayah di Kabupaten Minahasa, dengan agenda politik tahun 2018 mendatang. Menurutnya, di moment yang pas untuk menunjukkan kepedulian ini, ternyata tak ada satupun bakal calon yang mengambil kesempatan emas tersebut.

“Ini juga memang menjadi pembelajaran bagi tokoh-tokoh yang ingin maju bertarung pada Pilkada Minahasa 2018. Masyarakat mungkin saja menantikan kehadiran para bakal calon ini ditengah-tengah mereka. Hanya saja, moment ini tidak dimanfaatkan dengan baik. Sementara, masyarakat Minahasa sudah tidak bisa dibodohi lagi, bila tidak mengambil moment ini berarti di 2018 nanti, masyarakat pasti enggan memilih, dengan dalih, sedangkan belum terpilih kurang kepedulian, apalagi bila sudah terpilih,” tukasnya.

Menurut Sahensolar, ada sejumlah nama yang digadang-gadang bakal maju sebagai papan satu Pilkada Minahasa 2018. Sebut saja, Royke Oktavianus Roring (ROR), Ivan SJ Sarundajang (Ivansa), Careig Naicel Runtu (CNR), Youla Lariwa Mantik (YLM) dan beberapa nama lain. Namun dari semua nama ini, belum ada satupun diantara mereka yang benar-benar serius menyatakan diri.

“Ada sejumlah nama yang katanya akan maju bertarung merebut DB 1 B seperti, ROR, Ivansa, CNR, YLM dan sejumlah nama lain. Namun yang melihat mereka nampak tak serius. Apakah karena mengakui keunggulan Petahan atau ada persoalan lain. Ini bisa dibuktikan dimana ada moment pas untuk sosialisasi diri tapi tidak dimanfaatkan. Jadi menurut saya, ini yang bakal dijadikan standart bahwa Pilakada Minahasa 2018 bakal sepi,” pungkasnya.

Minimnya para bakal calon Bupati Minahasa periode 2018-2023 ini mensosialisasikan diri, berbanding terbalik dengan apa yang telah dilakukan Petahana, sebut saja Bupati Minahasa saat ini, Drs Jantje Wowiling Sajow MSi (JWS).

Oleh Sahensolar menilai, apa yang telah dikerjakan JWS selang hampir empat tahun kepemimpinannya ini telah membuktikan bahwa, belau berhasil memajukan Kabupaten Minahasa dari segala sektor, dan masyarakat tau soal itu. Menurut Sahensolar, ini mungkin yang membuat para kandidat bakal calon lainnya enggan bersaing merebut papan satu Minahasa.

“Bukan janji tapi bukti yang diberikan JWS bagi pembangunan di Minahasa. Image ‘Kota Mati’ dan ‘Kota Preman’ mampu tertepis dengan pembangunan nyata di segala bidang, baik sosial, ekonomi, pariwisata, kesehatan, infrastruktur, pendidikan dan lainnya. JWS mampu mengubah Kota Tondano menjadi salah satu Kota yang direferensikan untuk menjadi lokasi kunjungan wisata,” pukasnya.

“Tak hanya itu saja, kepedulian JWS terhadap warganya yang tertimpa bencana dengan memberikan respon secara cepat mendatangkan decak kagum banyak pihak terlebih masyarakat Minahasa. Kharisma pemipin yang melekat di dirinya mampu membuat pesan sederhana kepada bahawan menjadi pesan luar biasa yang direspon secara luar biasa pula,” kata Sahensolar.

Atas keberhasilan JWS ini, bakal calon papan dua yang kelihatan ingin berpasangan dengan beliau pun nampak berbondong-bondong “menawarkan diri”. Sebut saja Imelda Novita Rewa (INR), Denny Mangala (DM), Jeffry Robby Korengkeng (JRK) dan masih banyak yang lainnya.

Terpisah, JWS yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Minahasa kepada sejumlah media massa di Minahasa belum lama ini berujar, ada baiknya Pilkada Minahasa 2018 ini diikuti sedikitnya tiga pasangan calon untuk meriahnya pesta demokrasi di Minahasa. “Pilkada Minahasa 2018 ini akan seru bila diikuti sedikitnya tiga pasangan calon,” tukas JWS.

Namun demikian, kita lihat nanti kejutan di Pilkada Minahasa 2018 mendatang. Bakal seru atau biasa saja.(fernando lumanauw)

Tinggalkan Balasan

News Feed