Borneo Resource Investments Ltd Perusahaan Tambang Ilegal di Sulut

Manado – Borneo Resource Investments Ltd perusahaan tambang yang mengklaim selama ini beraktifitas menambang emas di daerah Talawaan, Kabupaten Minahasa Utara (Minut) dan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) wilayah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Indonesia diduga sebagai perusahaan asing ilegal.

Dari penelusuran cybersulutnews.co.id, Borneo Resource Investments Ltd yang mempunyai anak perusahaan dengan nama PT. Borneo Jaya Emas (BJE) memberikan informasi fiktif atau tidak benar mengenai aktifitas tambang emas di daerah Talawaan dan Ratatotok yang diinformasikan lewat beberapa media.

CEO Borneo, Nils Ollquist pada salah satu media dengan nama majalah tambang (majalahtambang.com) telah merilis bahwa Borneo Resource Investments Ltd pada 31 Maret 2014 silam mulai mendapat pemasukan dari aktifitas tambangnya sebesar US$ 398.000. Total pemegang saham US$ 1,564 juta.

Nils meyakinkan bahwa perusahaan tambangnya telah berproduksi emas di dua daerah yakni Talawaan dan Ratatotok tersebut. Malah dalam informasi terbaru yang dirilis media online Migasreview.com pada 14 Januari 2015 dengan gamblangnya Nils mengungkapkan Borneo Resource Investments Ltd, telah melakukan pembangunan fasilitas pemrosesan logam mulia (leach pad) di Ratatotok, Kabupaten Mitra dengan berkapasitas 10.000 ton.

Katanya, produksi uji coba fasilitas tersebut diperkirakan dihasilkan pada pertengahan Februari dengan perkiraan output sebesar 4-6 kg emas murni 99 persen yang saat ini seharga US$160.000-240.000.

Cybersulutnews.co.id pun membuktikan mengenai informasi tidak benar yang dipublis Borneo Resource Investments Ltd pada beberapa media tersebut, serta website resmi perusahaan asing itu dengan nama borneoresource.com. Dalam website perusahaan itu semua data mengenai aktifitas pertambangan emas di Talawaan dan Ratatotok begitu direkayasa padahal tidak ada aktifitas pertambangan oleh perusahaan tersebut, apalagi telah memproduksi emas seperti yang diinformasikan.

Cybersulutnews.co.id yang berkunjung di Talawaan hanya melihat aktifitas tambang yang dilakukan perorangan dengan peralatan tambang sederhana atau tradisional memakai tromol saja. Tidak ada aktifitas layaknya pertambangan besar yang dilakukan oleh perusahaan dengan lebel Penanaman Modal Asing (PMA) dengan nama Borneo Resource Investments Ltd ataupun dengan anak perusahaannya PT. Borneo Jaya Emas (BJE).

“Yang menambang dari dulu di daerah kami di Talawaan hanya kami saja. Dan tidak ada perusahaan asing dengan nama Borneo Resource Investments Ltd atau PT. Borneo Jaya Emas (BJE),”kata Kris Tumundo salah satu pemilik lokasi tambang di Talawaan.

Diungkapkan Tumundo, memang beberapa waktu lalu ada orang asing yang datang ke Talawaan yang katanya akan berinvestasi dengan perusahaan modal asing untuk melakukan aktifitas pertambangan emas skala besar di Talawaan. “Mereka turun di Talawaan hanya mengambil data saja dengan mempublis lewat foto-foto beberapa tempat di Talawaan. Tetapi sampai saat ini tidak ada perusahaan tambang Borneo itu disini,” jelasnya.

Sumber resmi lainnya di Minahasa Utara (Minut) mengungkapkan mengenai sepak terjang CEO Borneo, Nils Ollquist yang waktu itu menawari akan bekerja sama dengan pihaknya untuk membuka lahan tambang seluas 50 hektar di Talawaan.

“Awalnya saya kenal dengan mereka di Jakarta beberapa tahun silam. Kemudian mereka menawari akan bekerjasama dengan kami untuk berinvetasi di Minut. Tetapi kemudian hal itu tidak benar semuanya. Yang ada mereka hanya mengambil data-data serta foto-foto aktifitas tambang rakyat di Talawaan,” ungkap sumber sembari kaget ketika mendapatkan informasi mengenai Borneo Resource Investments Ltd telah mempublis di beberapa media secara online serta website resmi mereka mengenai perusahaan tambang dengan lebel PMA di Talawaan dan Ratatotok yang telah memproduksi emas dengan perusahaan tambang mereka.

“Setahu saya tidak ada Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang dikeluarkan untuk perusahaan Borneo Resource Investments Ltd ataupun anak perusahaannya PT. Borneo Jaya Emas di Sulut maupun Minut yang saat ini dilakoni Warga Negara Asing (WNA) Terry Filbert sebagai Managing Director Asia perusahaan tersebut, yang adalah anak buah Nils. Herannya, kantornya pun mereka memakai alamat rumah saya di Minut,” ungkap sumber yang mengaku kesal dengan perbuatan dua WNA tersebut yang mengklaim miliki pertambangan di Talawaan dan Ratatotok, serta menjual informasi yang telah direkayasa ke dunia internasional lewat perusahaan
Borneo Resource Investments Ltd.

“Mereka seolah-olah ada tambang di Sulut dan Kalimantan. Data-data itu dimainkan sedemikian rupa hingga benar-benar meyakinkan. Dan mereka bermain saham di Amerika, yakni di American Stock Exchange (AMEX) adalah bursa efek Amerika lewat perusahaan tambang American Stock Exchange (AMEX) adalah bursa efek Amerika,” terang sumber yang meminta identitasnya tak dipublis cybersulutnews.co.id.

Hal yang sama dikatakan Revli OHP Mandagie, pengusaha batu bara di Kalimantan, warga Kawanua yang mengetahui tindak tanduk perusahaan Borneo Resource Investments Ltd. Malah informasi yang didapatkan cybersulutnews.co.id, Mandagie ikut menjadi korban permainan perusahaan tak jelas itu. “Saya juga dirugikan. Tapi nanti saya berikan pernyataan lengkap dan terperinci,” ujarnya singkat.

Menyangkut aktifitas Borneo Resource Investments Ltd lewat anak perusahaannya PT. Borneo Jaya Emas di Ratatotok, pihak Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) melalui Kepala Dinas ESDM Mitra Dennj Porajow pada beberapa media online di Mitra, menyatakan larangan terhadap penambangan dari perusahaan asing itu.

“Kami sudah tahu aktifitas mereka sesuai pengecekan dilapangan. Dan sudah melarang perusahaan itu melakukan kegiatan,” ucapnya.

Namun perusahaan tersebut sampai saat ini masih melakukan pembongkaran dengan alat berat eskavator di wilayah Alason, Ratatotok. Padahal perusahaan tidak mengantongi IUP seperti yang dikatakan
Kepala Badan Penanaman Modal Pelayanan Perizinan Satu Pintu (BPMP2SP) Mitra, Rolly Mamahit bahwa pihaknya belum pernah mengeluarkan IUP kepada PT Borneo Jaya Emas.

Sumber lainnya menyatakan belum ada produksi emas di Ratatotok oleh perusahaan tersebut. “Jangan sampai ini aktifitas disana itu kembali mereka publis lewat online supaya bisa meyakinkan para pemain saham, bahwa benar-benar mereka memiliki tambang emas dengan produksi emas di Ratatotok padahal data mereka fiktif semua. Dugaan mereka meraup keuntungan dari pasar saham tersebut,” kata sumber resmi cybersulutnews.co.id yang meminta namanya tak dipublis dahulu. (vebry)

Tinggalkan Balasan

News Feed