Diduga Dianiaya dan Ditembak Oknum Polisi, Dua Warga Manado Kritis

Dua korban saat menjalani perawatan di RS Kandou Malalayang.
Dua korban saat menjalani perawatan di RS Kandou Malalayang.

Manado – Bryen Mailangkay (21) dan Clief Walanda (22), warga Malalayang I, Kecamatan Malalayang, Selasa (23/11/2016), terpaksa harus menjalani perawatan insentif di Rumah Sakit (RS) Kandou Malalayang, setelah mendapat tindakan arogan dari oknum aparat penegak hukum yang bertugas di Polres Minut dan Polsek Tuminting.

Dimana, korban Bryen mendapat luka tembakan di betis sebelah kanan, sementara Clief mendapat tendangan dan pukulan.

Insiden tersebut terjadi setelah korban dan oknum pengayom masyarakat, masing-masing Bripka SO alias Sampurno, anggota Polres Minut dan Bripka MM alias Meiler anggota Polsek Tuminting meneguk minuman keras di salah satu kos-kosan yang berlokasi di jalan Bogani Malalayang.

Buntut mengkonsumsi minuman keras, korban Bryan diduga sudah tidak bisa lagi mengontrol diri. Ia kemudian dipukul Bripka Sampurno dengan menggunakan tangan. “Dia tumbu pa kita. Kalu dia bilang cuma ada kuti, napa ngoni lia kitan pe bibir ini. So pica kong dia (oknum polisi) bilang cuma ada tumbu,” terang Bryen kepada sejumlah wartawan di RS Kandou Malalayang dengan dialek Manado.

Sakit hati mendapat tindakan kekerasan, Bryan dan Clief berencana ingin membalas perbuatan Sampuro. Kedua korban kemudian melempar kaca depan mobil Xenia yang dikendarai Bripka Sampurno dan Meiler hingga pecah. Usai melakukan aksi tersebut, keduanya kemudian melarikan diri dengan menggunakan sepeda motor jenis Honda Beat.

Aksi saling kejar disertai tembakan pun tak terelakan, hingga tepat di jalan Wolter Mongisidi dekat dieler Suzuki, motor yang dikendarai korban ditabrak hingga naik ke atas trotoar. Saat itu pula, kedua oknum polisi diduga melakukan penganiayaan.

“Waktu dorang dusu pa torang, dorang langsung ba tembak-tembak. Tu peluru kita dengar rupa ja lewat ditelinga. Jadi dorang nda buang tembakan di atas, langsung se mangada pa torang dua. Sekitar enam kali dorang ba tembak. Io dorang tabrak pa torang dari belakang,” lanjutnya.

Sementara itu, oknum polisi yang diduga melakukan tindakan arogan mengaku, mereka tidak melakukan pengaiayaan seperti yang diterangkan korban. Begitu juga pasca mengarahkan senjata api jenis revolver ke arah korban, mereka sempat memberikan tembakan peringatan.

Namun, mereka tak membantah kalau sebelum kejadian sempat meneguk minuman keras bersama korban dan belasan rekan korban lainnya. Dilanjutkan pula, usai menembak kaki korban, mereka menabrak pohon perindang dipinggir jalan, bukan kendaraan yang dikemudikan korban.

Kapolda Sulut, Irjen Pol Wilmar Marpaung ketika dikonfirmasi melalui juru bicaranya, Kombes Pol Marjuki menegaskan kalau pihaknya sementara melakukan pemeriksaan terhadap anggota yang diduga melakukan tindakan kekerasan.

“Anggota sekarang sudah diperiksa mendalam. Ada dua anggota. Anggota juga luka-luka karena kecelakaan. Mobil yang ditumpangi anggota juga rusak parah. Mereka datang di sana (kos-kosan) karena di telepon pemilik kos. Karena disitu, di kamar kos ada pesta Miras. Mereka disuruh untuk membubarkan,” pungkas Marjuki. (jenglen manolong)

Tinggalkan Balasan