Manado – Di tengah cuaca yang tak menentu yang kerap membuat perkiraan keliru, Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, justru menyambut dinamika itu dengan optimisme penuh.
Gubernur Yulius Selvanus berbagi insight yang tak biasa soal bagaimana cuaca, lahan, kebiasaan makan, hingga kuliner unik Manado ikut mewarnai strategi pengendalian inflasi di daerah Sulawesi Utara.
Gubernur Yulius Selvanus membuka kegiatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) di Kantor BI Sulut, Senin (27/10/2025).
Meski prakiraan cuaca mengatakan akan hujan deras berturut-turut, kenyataannya langit cerah kala penerbangan berlangsung.
Gubernur Yulius mencontohkan hal ini sebagai gambaran bahwa dinamika alam tak bisa sepenuhnya diandalkan, sehingga diperlukan pendekatan inovatif dalam pengelolaan pangan.
Sulawesi Utara yang 73,2 persen wilayahnya laut, hanya memiliki lahan pertanian terbatas sekitar 49 ribu hektare.
Namun, upaya tengah dilakukan untuk menambah menjadi 59 ribu hektare dengan fokus tidak hanya pada sawah tetapi juga tanaman jagung sebagai diversifikasi pangan.
Uniknya, masyarakat Sulut memiliki kebiasaan makan yang “kuat” sehingga seringkali banyak makanan tersisa.
Hal ini memicu imbauan agar warga lebih hemat serta mengurangi limbah makanan, terutama saat pesta dan acara besar.
Gubernur juga menyoroti masalah alih fungsi lahan yang terus diatur lewat perubahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Untuk menjaga ketersediaan pangan, Sulut aktif membagikan bibit unggul ke petani dan berkolaborasi erat dengan Bulog serta Dinas Pangan.
Hasilnya, inflasi Sulut jadi yang terendah ketiga di Indonesia dan nomor satu di Pulau Sulawesi.
Lebih dari sekadar angka, Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) menjadi wadah kolaborasi daerah untuk berbagi praktik terbaik dan memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat Sulampua.
Di sela acara, gubernur mengajak semua peserta merasakan kekayaan alam dan kuliner Sulut, seperti Taman Laut Bunaken serta hidangan khas tinutuan, cakalang fufu, dan rica-rica yang tak lengkap tanpa dicicipi.
Dengan segala kekayaan alam, lahan terbatas, dan keunikan budaya makan, Sulut membuktikan cara berbeda dalam menjaga ketahanan pangan: optimisme, inovasi, dan sinergi budaya lokal menjadi kunci sukses.




















