
Minahasa – Direktur PT Gunung Mas Agro Lestari (GMAL) Indonesia Timur, Pieter Tangka, menyatakan komitmen PT GMAL untuk Kabupaten Minahasa, khususnya bagi warga yang berprofesi sebagai petani, dalam mengembangkan tanaman holtikultura termasuk Cabe.
Tangka menjelaskan, dalam isi MoU dengan pihak Pemerintah Kabupaten Minahasa melalui Bupati Minahasa, Drs Jantje Wowiling Sajow MSi, pada panen Cabe perdana bersama Menteri Pertanian, Dr Ir Suswono MMA, di Desa Pinabetengan Kecamatan Tompaso Barat tersebut, pihaknya memiliki komitmen bagaimana mencerdaskan para petani soal tanaman holtikultura dan cara memanfaatkan lahan tidur menjadi sesuatu yang menghasilkan.
“Dalam hal ini, bagaimana kita mengalihkan teknologi yang kita lakukan di Thailand, Korea, Jepang dan Vietnam, kemudian dibawa kesini untuk diterapkan. Kami memulai dari nol dan berkomitmen sampai akhir, artinya dari hulu sampai hilir tanpa terhenti ditengah jalan. Penanganannya secara kompherensif, bagaimana kita mengajarkan petani cara menanam yang benar, pembukaan lahan yang benar, perawatan tanah yang benar, pemupukkannya, pengendalian hama penyakit sampai panen kemudian dipasarkan,” kata Tangka, didampingi Komisaris PT GMAL, Zee Agustine.
Menurut Tangka, dalam hal ini pihaknya tidak membebani petani dalam bentuk apapun termasuk uang. Melainkan, petani hanya menyediakan tenaga dan lahannya saja untuk ditanami.
“Semua kami modali tapi tidak dalam bentuk uang tapi dalam bentuk Alsintan dan Saprodia, serta apapun yang diperlukan kami sediakan semuanya,” ujar jebolan Strata Dua di salah satu Universitas ternama di Israel tersebut.
Selain itu, pihaknya juga tidak mengambil keuntungan dari petani soal harga Cabe seperti yang terjadi antara petani dan penadah atau perantara hingga ke pasar.
“Seperti contoh, bila Cabe disini kita ambil Rp. 10 ribu maka kita juga jual dengan harga yang sama, karena berapapun harganya petani harus tau. Jadi, dalam hal ini kita hanya provit sharing, ketika panen hasilnya kita jual, maka hasilnya dibagi 40 persen untuk kami dan 60 persen untuk petani, tidak termasuk modal karena modalnya tidak dihitung atau dengan kata lain dibebankan kepada kami. Jadi, petani hanya memberikan tenaga kemudian menuai keuntungan saat panen dengan tidak mengeluarkan modal apapun,” terang Tangka pula.
Direncanakan, Bulan Juni atau Juli mendatang, Kabupaten Minahasa sudah mampu memenuhi kebutuhan Pasar di Provinsi DKI Jakarta setiap harinya.
“Kami targetkan, di Bulan Juni atau Juli mendatang, sekali panen per hari mencapai 50 Ton untuk kebutuhan di DKI Jakarta,” katanya.
Sebagai tambahan, dikatakan Tangka, untuk Cabe sendiri terbagi dalam satu pohon menghasilkan buah yang dibagi dalam empat grade atau empat kwalitas mutu, yakni Grade A, B, C dan D, yang kesemuanya bisa dijadikan uang.
“Yang masuk DKI Jakarta hanya grade A dan B, pasarannya kami yang tanggung karena pengiriman yang mencapai 10 hari lebih butuh teknologi khusus agar sampai tujuan kondisi cabe tidak turun yang nantinya mempengaruhi harga. Sementara untuk grade C dan D atau kwalitas dibawahnya, kita ekspor ke Korea,” pungkasnya.
Sementara, di Kabupaten Minahasa sendiri, untuk awal Tahun ini, PT GMAL telah membina sebanyak 35 kelompok petani dan dipastikan akan bertambah dan meluas di seluruh Kabupaten Minahasa.(fernando lumanauw)




















