Ini Skenario Simulasi Bencana  Gunung Lokon oleh TNI AD

Tomohon – TNI AD menggelar gladi resik simulasi penanganan bencana Gunung Lokon bekerjasama dengan Pemkot Tomohon, Senin (21/09/2015). Panglima Kodam VII/Wirabuana Mayjen TNI Bachtiar ikut hadir memantau jalannya gladi bersih yang didampingi Sekda Dr Arnold Poli MAP.

Bachtiar kepada wartawan mengatakan simulasi penanggulangan bencana letusan gunung berapi sangat perlu dilakukan karena bencana alam tak bisa diprediksi kapan datangnya sehingga perlu penanganan dini agar menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

“TNI AD memilih Kota Tomohon dalam simulasi bencana gunung berapi karena Gunung Lokon sebagai salah satu gunung yang potensi meletusnya sangat tinggi,” ujar Bachtiar.

Sementara Sekda Poli mengatakan Pemkot Tomohon sangat mengapresiasi dipihnya Tomohon sebagai daerah simulasi bencana, karena potensi Lokon sangat tinggi untuk meletus.

“Status Lokon saat ini masih pada level tiaga atau status siaga. Simulasi bencana Lokon oleh TNI AD akan sangat membantu kesiap-siagaan pemerintah dan masyarakat jika sewaktu-waktu Lokon kembali meletus,” ujar Poli.

Sementara itu dalam gladi resik ini ada sejumlah tahapan penanggulangan bencana. Dalam simulasi ini ada tiga orang meninggal dunia, enam orang luka-luka. Ada tiga orang lainya mengalami trauma, sementara ribuan orang terpaksa harus diungsikan.

Dalam simulasi ini, di adegan pertama, sejumlah kelurahan di bawah kaki gunung lokon, titik kumpul pengungsian di Kantor ex-Rindam Kakaskasen, selanjutnya lokasi pengungsian di Lapangan Babe Palar Walian.

Selain menimbulkan korban jiwa dan luka, para korban harus merelakan kehilangan harta benda. Anak-anak mengalami trauma, bahkan sejumlah orang dewasa sampai stres.

Untuk mengatasi itu sudah disiapkan trauma center, dan rumah sakit lapangan. saat menuju pengungsian arus lalu lintas padat, karena warga berbondong-bondong menghindari wilayah yang kena erupsi. Personel TNI pun ikut turun tangan melancarkan arus lalin. Di lokasi pengungsian, muncul skenario warga mengalami kelaparan, karena belum tersedianya makanan. Bantuan pangan yang dipasok langsung diserbu korban bencana.
Mereka bahkan saling berebut, petugas sampai kewalahan melerai perebutan berbuah pertengkaran tersebut.
Masalah bahkan terus muncul beberapa hari sesudah pengungsian. Pendidikan sekolah dituntut tak harus terhenti meski ada di lokasi pengungsian. TNI pun mendirikan sekolah lapangan untuk menfasilitasi anak-anak bersekolah. Selain itu, dalam simulasi juga disiapkan dapur lapangan yang menyiapkan kebutuhan pangan pengungsi.

Rencananya, simulasi yang digelar pada Selasa (22/09/2015) hari ini akan melibatkan 2000 anggota TNI AD bersama masyarakat yang berjumlah sekitar 300 orang.(maria)

Tinggalkan Balasan