Manado – Viona (nama samaran,red) gadis cantik berusia 4 tahun yang diduga mendapat perlakuan tak senonoh dari oknum guru Sekolah Dian Harapan (SDH) Manado, beinisial RYS alias Reonaldo (22), Rabu (18/02) pagi, menangis ketika penyidik unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polda Sulut, mempertemukan korban dan tersangka.
Dengan raut wajah ketakutan, Viona yang dipeluk orang tuanya kembali menunjuk Reonaldo, pelaku yang tega melakukan perbuatan yang tak sepantasnya dilakukan guru kepada murid.
Padahal ketika dipertemukan dengan korban, posisi Reonaldo berjejeran dengan enam orang lainnya yang disebut Reonaldo adalah orang yang mirip dengannya.
“Dalam pemeriksaan konfrontir yang dilakukan, korban menunjuk Reonaldo yang melakukan perbuatan cabul kepada korban. Padahal ketika dipertemukan dengan korban, Reonaldo berjejeran dengan beberapa orang yang disebut mirip dengannya. Namun korban menunjuk Reonaldo,” kata salah satu penyidik yang menangani kasus itu kepada Cybersulutnews.co.id.
Sayangnya, meski telah berulangkali disebut korban, Reonaldo tetap mengelak dan bersikeras bahwa apa yang dituduhkan kepada dirinya tidaklah benar.
“Namun ia (Reonaldo,red) belum mengakui perbuatan yang telah melakukan cabul kepada korban. Meski begitu, kita akan terus mengusut kasus ini. Kebenaran pasti akan terbongkat, nanti kita lihat proses penyelidikannya,” bebernya.
Seperti dalam pemberitaan Cybersulutnews.co.id sebelumnya, Penyidik Subdit III Jatanras Direktorat Reskrim Umum (Ditreskrimum) Polda Sulut, melalui unit PPA, Rabu (18/2), akan mempertemukan RYS alias Reonaldo (22), oknum guru di Sekolah Dian Harapan (SDH) Manado yang diduga melakukan tindakat tak senonoh kepada gadis berusia 4 tahun.
“Ia (Reonaldo,red) masih akan dimintai keterangan, karena saat memberikan keterangan, tersangka masih tidak mengakui perbuatannya. Untuk itu, kita akan pertemukan tersangka dan korban untuk dikonfrontir. Pemeriksaannya direncanakan besok pagi pukul 10.00 Wita,” beber Kasubdit Jatanras Polda Sulut, AKBP DR Grubert Ughude SH MH, melalui Kanit PPA, Kompol Elisabeth PG kepada sejumlah wartawan, Selasa (17/02) sore, di Mapolda.
Dikatakan Kompol Elisabeth, hal itu dilakukan karena tersangka masih mengelak serta mengatakan semua yang dituduhkan korban tidak benar. Tersangka malah mengatakan yang melakukan perbuatan tersebut adalah orang yang mirip dengannya.
“Untuk membuktikan pernyataan yang dilontarkan tersangka maka kami akan menghadirkan enam orang saksi yang mirip tersangka. Dan besok kita akan pertemukan korban, tersangka serta ke enam orang yang dikatakan mirip tersangka. Disitu kita akan lihat siapa yang akan ditunjuk korban,” ungkap Elisabeth, sembari berkeyakinan bahwa Reonaldo yang nantinya akan ditunjuk korban.
Itu dikatakan Elisabeth karena ketika tersangka digelandang ke ruang Unit PPA Jatanras Polda Sulut pada Jumat (13/2) pekan lalu, korban yang melihat tersangka langsung menjadi ketakutan.
Diketahui, terbongkarnya perbuatan asusila di sekolah ternama itu ketika korban mengeluh kesakitan pada kemaluannya ketika bermain di rumahnya yang terletak di Kelurahan Malalayang.
Mendapat pengeluhan dari korban orang tuanya curiga dan langsung menginterogasi korban. Mendapat tekanan dari orang tua, korban pun akhirnya mengaku kalau kemaluannya pernah diobok-obok oknum guru yang sering dipanggil Mister.
Korban pun mengaku perbuatan asusila itu dilakukan tersangka di dalam toilet play ground sekolah yang terletak di Kelurahan Ranotana, Kecamatan Malalayang.
Pengakuan dari korban langsung menyulut emosi keluarganya, hingga untuk membuktikan ucapan korban, keluarganya kemudian menuju ke sekolah. Setibanya di sekolah, korban yang diajak keluarganya langsung ketakutan ketika melihat wajah tersangka yang saat itu berdiri di lapangan bersama guru serta para siswa lainnya.
“Ketika melihat tersangka yang berdiri di lapangan, korbang langsung menangis ketakutan. Perbuatan tersangka sudah lebih dari satu kali karena korban sudah trauma melihat tersangka,” kata salah satu keluarga korban kepada wartawan.
Tak terima dengan perbuatan tersebut, keluarga korban kemudian mendatangi Mapolda Sulut dan melaporkan kejadian tersebut. Perbuatan cabul itu sendiri terbukti ketika orangtua korban melakukan visum di rumah sakit. Dari hasil visum terdapat luka dibagian kelamin korban. (jenglen manolong)




















