Kasus Pembunuhan di Tompaso, Tersangka dan Korban Sama-sama Gangguan Jiwa alias Gila

Minahasa – Kasus pembunuhan kembali terjadi di wilayah hukum Polres Minahasa, tepatnya di wilayah Polsek Tompaso. Kasus pembunuhan yang terjadi di Panti Psikotik Yayasan Wale Maleoleosan, Desa Tompaso ll Kecamatan Tompaso barat, Sabtu (24/10) pekan lalu, sekitar pukul 23.00 Wita ini terbilang unik dan mungkin pertama kali terjadi di Minahasa.

Pasalnya, baik pelaku lelaki JM alias Jefry (54), maupun korban yang teridentifikasi bernama Steven Karundeng (36), warga Desa Kanonang IV Kecamatan Kawangkoan Barat, menurut catatan medis sama-sama mengalami gangguan jiwa alias gila.

Menurut Kapolsek Tompaso, IPTU Mardy Tumanduk, ketika dikonfirmasi Cybersulutnews.co.id, Minggu (25/10) malam menjelaskan, pelaku Jefry menghabisi korban karena mengaku kesal dengan perbuatan korban yang kerap menggangu dirinya saat tidur.

Korban kerap menggangu pelaku dengan cara menggigit pelaku saat pelaku tidur. Jengkel dengan perbuatan korban, pelaku Jefry kemudian mengambil papan tempat tidur lalu memukulkan benda tersebut dibagian kepala korban yang menyebabkan korban meninggal di TKP (tempat kejadian perkara, red), karena banyaknya darah yang keluar dari luka korban sehingga korban meninggal akibat kehabisan darah,” terang Tumanduk.

Ditambahkannya, kedua orang ini, baik pelaku maupun korban sama-sama mengalami gangguan jiwa dan sudah empat tahun menghuni di panti tersebut, menurut keterangan saksi Novita Gosal dan Jonlive Fatah selaku penjaga panti.

“Menurut penjaga panti, kedua orang ini sudah empat tahun di panti ini, tinggal dan tidur di satu kamar yang sama dan mengalami gangguan jiwa alias gila. Pemilik panti ini yakni Rike Sumilat, yang saat ini tinggal di Manado,” ujar Tumanduk pula.

Sementara, dari hasil olah TKP, Polsek Tompaso sudah mengamankan barang bukti berupa papan yang digunakan pelaku menghabisi korban dan sudah mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi.

“Usai kejadian, kami langsung mengamankan TKP dan barang bukti, membawa korban ke rumah sakit, sekaligus mengawal hingga ke pemakaman,” ujarnya.(fernando lumanauw)

Tinggalkan Balasan