
Kejadian tersebut pertama kali diketahui kedua keponakan korban yakni lelaki Soni watuseke dan Dani Mogi, sekitar pukul 11.15 wita.
Saat ditemukan keduanya, korban sudah dalam keadaan tak bernyawa tergantung dengan seutas tali nilon di lantai dua sebuah rumah panggung yang lama tak ditinggali, milik dari keluarga Warsita Tulangow, yang belakangan diketahui sebelumnya milik keluarga besar korban.
“Om kami ini tak pulang kerumah sejak kemarin hari. Karena sampai hari ini tak kunjung pulang juga, kami kemudian berinisiatif mencari. Pertama kami mencari korban ke beberapa keluarga namun ternyata tidak ditemukan. Kemudian kami mendatangi rumah yang dahulunya tempat tinggal korban. Saat mencari dibagian bawah rumah tidak ada, setelah mengecek ke bagian atas rumah, kami menemukan Om kami ini sudah dalam keadaan tergantung di konsen pintu kamar muka, dengan seutas tali nilon,” terang Soni didampingi Dani.
Kakak korban, Rike Tumangkeng juga menuturkan, beberapa hari terakhir ini korban sering marah-marah. Diduga korban ada gangguan kejiwaan yang sering kambuh.
“Dia (korban, red) tidak menikah. Selama ini saya yang bertanggung jawab terhadap dirinya, karena dia tinggal dengan saya. Memang hari-hari terakhir ini dia sering marah-marah yang diduga karena sakit yang diderita,” tutur kakak korban.
Sementara, Kapolsek Langowan Timur, AKP Sammy Pandelaki ketika dikonfirmasi, membenarkan kejadian tersebut. Menurut Pandelaki, dari keterangan keluarga, korban sebelumnya telah beberapa kali berusaha bunuh diri namun bisa dicegah.
“Korban diduga memiliki gangguan kejiwaan, sebab berdasarkan keterangan keluarga bahwa korban seperti bingung- bingung dan sering marah-marah. Saat ini jenazah korban langsung dibawah ke Puskesmas Wolaang untuk di visum luar oleh dr Patrisius Roring. Namun keluarga menolak untuk melakukan otobsi, tidak ada tanda-tanda kekerasan ditubuh korban,” pungkasnya.(fernando lumanauw)




















