
“Dalam kasus ini Kapolres Tomohon akan kita panggil untuk dimintai keterangan, karena dia sebagai Pemimpin di sana (Polres Tomohon, red) pasti mengetahui lebih rinci kasus ini,” beber sumber resmi di Mapolda Sulut kepada
Cybersulutnews.co.id akhir pekan lalu.
Dibeberkan sumber bahwa, dalam kasus yang sempat menghebohkan warga Kota Tomohon, Tim dari Paminal telah terjun ke lokasi dan melakukan pemeriksaan kepada sejumlah anggota piket yang saat itu bertugas melakukan penjagaan di Mapolres.
“Saat kabar meninggalnya Welly terendus tiga anggota Paminal Polda Sulut langsung terjun ke lokasi dan telah melakukan pemeriksaan kepada anggota yang saat itu berada di Mapolres,” kata sumber sembari menambahkan, proses penyelidikan masih terus dilakukan Tim Paminal Polda Sulut.
Kabid Humas Polda Sulut, AKBP Wilson Damanik sendiri ketika dihubungi Cybersulutnews.co.id, melalui telepon selulernya membenarkan jika Kapolres Tomohon akan diperiksa Tim Paminal Polda Sulut.
“Kita akan minta keterangan terkait meninggalnya tahanan di Mako Polres Tomohon. Dalam kasus ini, penyidik paminal sudah memeriksa beberapa anggota Polres Tomohon,” ungkap Damanik.
Propam Polda Sulut melalui Sub Bidang Paminal mulai menyeriusi kematian Welly Moniaga tahanan Polres Tomohon atas kasus dugaan pencurian. Untuk mengungkap kebenaran tewasnya Welly, Sabtu (04/06/2015), tim Paminal terjun ke lapangan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut, mengingat kematian Welly disinyalir memiliki sejumlah kejanggalan hingga menuai kontroversial.
Informasi yang dirangkum Cybersulutnews.co.id, setelah menerima laporan adanya tahanan meninggal di Polres Tomohon yang dinahkodai AKBP Monang Simanjuntak, tim Paminal Polda Sulut langsung membentuk tim untuk mengungkap kejanggalan tersebut.
Dari penyelidikan sementara, Paminal telah memeriksa beberapa anggota Polres Tomohon.
“Anggota Paminal sudah melakukan pemeriksaan kepada anggota yang kala itu melakukan penjagaan. Selain diperiksa di Polres Tomohon, Piket yang jaga juga akan kami panggil untuk dimintai keterangan di Mapolda,” beber sumber resmi di Mapolda Sulut, Rabu (10/06/2015).
Dalam penyelidikan itu kata Sumber, sebelum diamankan pihak Polres Tomohon korban ternyata telah dikeroyok warga setempat karena dituduh mencuri. Sedangkan, keterangan dari sejumlah pihak yang menyatakan korban telah meregang nyawa saat dibawa ke rumah sakit, masih akan dikembangan tim Paminal Polda Sulut.
“Dalam pemeriksaan yang dilakukan anggota Paminal di Polres, korban juga ternyata telah dianiaya oleh warga sekitar. Soal keterangan lainnya sedang dilakukan pengembangan,” jelas sumber.
Seperti data yang diperoleh Cybersulutnews.co.id, peristiwa meninggalnya Welly Moniaga di tahanan Polres Tomohon pekan lalu, belakangan ini memunculkan berbagai kejanggalan. Pasalnya, Welly diduga kuat telah meregang nyawa dalam sel tahanan sebelum dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
Tak hanya itu, kejadian tersebut disinyalir tidak dilaporkan dengan jelas oleh Kapolres Tomohon, AKBP Monang Simanjuntak, kepada Kapolda Sulut yang saat itu dijabat Brigjen Pol Wilmar Marpaung.
Hal tersebut terkuak ketika, sejumlah wartawan pos liputan Polda Sulut, melakukan konfirmasi kepada Jenderal bintang satu itu, Selasa (09/06/2015) lalu. Dengan tegas, Kapolda menyatakan bahwa dirinya tidak mengetahui secara jelas terkait meninggalnya tahanan di Mapolres Tomohon.
Diduga kuat, Kapolres tidak melaporkan dengan rinci kejadian tersebut, serta terkesan menutupi peristiwa yang sebenarnya terjadi.
“Saya gak tau lah, tanya saja sama Kapolres (Simanjuntak-red) bagaimana jelasnya,” kata Marpaung.
Dugaan tersebut menguat ketika pihak Polres melakukan konferensi pers bersama para awak media di Mapolres Tomohon. Pasalnya, keterangan meninggalnya Welly tidak disampaikan langsung Kapolres melainkan hanya diwakili Kasat Reskrim, AKP Thommy Aruan.
Padahal kata wartawan yang berada di Polres Tomoho , Kapolres hanya berdiam diri dalam ruang kerjanya.
Anehnya lagi, beberapa perwira terkait seperti Kasat Tahanan dan Barang Bukti (Tahti), Kepala Sentra Kepolisian Terpadu (Ka SPKT) yang mengawasi penjagaan markas, tidak memberikan penjelasan sedikit pun mengenai hal itu.
Tak heran, situasi tersebut menuai sejumlah kejanggalan dan terkesan Kapolres dan beberapa pejabat lainnya tutup mulut. Dalam keterangan pihak Polres, membantah jika Welly meninggal dalam sel tahanan.
Dijelaskan, bahwa Polres Tomohon sudah membawa Welly ke Rumah Sakit Bethesda untuk dilakukan pengecekan kondisi kesehatan.
Hanya saja, dari pihak rumah sakit menyatakan jika korban cuma mengalami luka lebam biasa sehingga tak perlu dirawat lebih lanjut, dan akhirnya meninggal pada Sabtu (04/06/2015).
“Kami sempat membawa korban pada Jumat (03/06/2015) pagi, di Rumah Sakit Bethesda, karena kami lihat korban butuh perawatan medis. Tapi hanya diberikan resep obat untuk menghilangkan rasa nyeri,” ujar Aruan.
Menurut Aruan, pada Sabtu, sekitar pukul 11.00 Wita, Welly dibawa ke Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon untuk mendapatkan perawatan medis. Namun sekitar pukul 11.30 Wita, korban meregang nyawa.
“Waktu kami bawa ke rumah sakit, korban sudah kesakitan. Sewaktu di rumah sakit Gunung Maria, korban sempat dipasang alat perekam jantung dan nanti sekitar jam 12 siang korban meninggal,” tandasnya.
Menariknya, apa yang disampaikan Aruan nampaknya bertentangan dengan penjelasan salah satu sumber perawat di Rumah Sakit Gunung Maria. Sebab, menurut sumber korban saat dibawa ke rumah sakit sudah meninggal sehingga tidak bisa diberikan pertolongan.
“Sampai di sini (rumah sakit, red) sekitar jam setengah 12 siang saat dibawa petugas polisi, korban sudah meninggal. Memang kami sudah tidak bisa buat tindakan apa-apa, karena ini kasus kepolisian. Nanti kalaupun ada pemeriksaan lanjut, itu di bagian forensik yang buat keterangan,” ungkap sumber yang merupakan tenaga medis di rumah sakit tersebut.
Diketahui, Welly pada Kamis (02/06/2015) pekan lalu, dikeroyok warga di Pasar Kuliner, saat dirinya mendatangi rumah Hesty di Kelurahan Paslaten, Tomohon Tengah, yang dikabarkan teman spesialnya.
Saat itu di rumah, hanya ada anak dari Hesty bernama Jenever sehingga Welly tidak diperbolehkan masuk. Disini, antara Welly dan Jenever terjadi dorong mendorong. Saat itu, Jenever pun langsung memplintir tangan korban hingga korban berteriak kesakitan.
Mendengar itu, warga sekitar pun langsung datang dan menghakimi korban sampai akhirnya ditolong polisi satuan lalu lintas Polres Tomohon. Setelah diperiksa, petugas menemukan tas korban berisi plat nomor dan juga STNK DB 2502 GA jenis Yamaha Mio. (jenglen manolong)






















