Menyapa dari Wusa dan Pandu, Saat Menteri Wihaji Turun Langsung ke Rumah Keluarga Miskin di Sulut

Manado — Sabtu pagi (11/10/2025) yang cerah di Desa Wusa, Kecamatan Talawaan, Kabupaten Minahasa Utara, menjadi saksi kehadiran seorang tamu penting.

Tidak dengan jas tebal dan jarak protokoler, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN RI, Wihaji, justru melangkah masuk ke lorong-lorong tanah berdebu, menyapa warga yang berdiri di depan rumah papan sederhana yang reot.

Kunjungannya yang didampingi Kepala Perwakilan Kemendukbangga Sulut Jeanny Yola Winokan serta Kepala Dinas Kependudukan, Pencatatan Sipil dan Keluarga Berencana Provinsi Sulut Christodharma Sondakh hari ini bukan sekadar seremoni.

Ia datang untuk melihat, mendengar, dan merasakan langsung denyut kehidupan keluarga berisiko stunting, sebagaimana perintah Presiden Prabowo Subianto: “Jangan banyak seminar, jangan banyak diskusi. Turun ke lapangan, selesaikan masalah.”

Rumah Papan dan Cerita Perjuangan

Salah satu yang disambangi adalah keluarga Eiberhart Kapugu (sopir harian) dan Lily Dolang (ibu rumah tangga). Pasangan ini hidup bersama empat anak mereka di rumah kecil berdinding papan, berdiri di atas tanah yang bukan milik sendiri.

“Setiap hari kami harus siapkan uang sekolah Rp15 ribu. Kadang kalau tidak ada kerjaan, torang pinjam di warung,” tutur Lily lirih.

Sang menteri mendengarkan dengan seksama. Tak hanya menanyakan pendapatan atau data bantuan sosial, Wihaji juga menengok kondisi kamar, dapur, dan MCK yang tak layak pakai.

“Ada MCK di sini, bu? Kalau malam bagaimana ke toilet?” tanya Wihaji, matanya menatap prihatin ke arah halaman belakang yang masih berupa tanah kosong.

Dari Data ke Aksi Nyata

Di hadapan warga, Wihaji menegaskan bahwa kebijakan pemerintah kini berfokus pada aksi langsung dan kolaborasi nyata.

Ia menyebut program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) sebagai salah satu upaya konkret untuk menurunkan prevalensi stunting, yang kini masih berada di angka 19,8 persen secara nasional dan 20 persen di Sulut.

“Kalau tanah ini milik sendiri, saya pastikan rumah keluarga ini akan dibangunkan. Kita ingin mereka punya suasana baru, hidup baru,” ujarnya tegas.

Tak hanya janji, hari itu juga Kementerian DUKBANGGA/BKKBN memberikan bantuan sembako senilai Rp420 ribu per bulan untuk enam bulan ke depan, serta pendampingan gizi bagi anak-anak keluarga Kapugu-Dolang.

Air Mata dan Asa Baru

Di akhir kunjungan, Lily Dolang tak kuasa menahan tangis saat menerima bantuan langsung.

“Kami bersyukur dan sangat bahagia. Bantuan ini adalah rezeki besar bagi keluarga kami. Terima kasih, Pak Menteri,” katanya sambil memeluk anak bungsunya.

Momen itu menghangatkan suasana. Tak ada jarak antara pejabat dan rakyat. Hanya ada kepedulian yang tulus, di tengah perjuangan keluarga sederhana yang kini memiliki harapan baru.

Harapan dari Wusa hingga Pandu

Usai dari Desa Wusa, rombongan melanjutkan kunjungan ke Kelurahan Pandu, Kota Manado — yang juga dihuni keluarga berisiko stunting.

Di sana, Wihaji kembali menyaksikan rumah tanpa jamban, dapur menyatu dengan tempat tidur, dan akses air bersih yang minim.

Ia menggandeng berbagai pihak — dari Rumah Zakat, BUMN, hingga masyarakat — untuk bersama menangani persoalan dasar keluarga.

“Yang kita urus ini manusia, bukan proyek. Hasilnya mungkin tak langsung terlihat, tapi dampaknya akan terasa 10 sampai 15 tahun ke depan,” ucapnya penuh keyakinan.

Kunjungan Menteri Wihaji di Sulawesi Utara bukan sekadar agenda kerja — ia adalah pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dari rumah-rumah sederhana seperti di Desa Wusa dan Kelurahan Pandu.

Karena, seperti kata Wihaji,

“Kalau keluarga sehat dan kuat, maka bangsa juga akan kuat.”

Tinggalkan Balasan