Manado – Setelah ramai pemberitaan terkait adanya dugaan mark up atas revitalisasi Museum Sulawesi Utara, pihak kontraktor bereaksi cepat.
Pantauan wartawan, Senin (20/4/2026), tampak aktivitas pengecatan di gedung Museum yang dilakukan pihak kontraktor.
Wartawan sempat mewawancarai salah satu pekerja.
“Belum kelar dang ini pembangunan (apakah pembangunan belum selesai)?” tanya wartawan dalam dialek Manado.
“Oh belum, belum klar,” jawab pekerja di lokasi.
Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Yorry Rommy Lesawengen, dikonfirmasi wartawan mengatakan pekerjaan revitalisasi Museum yang dibiayai APBD Provinsi Sulut tahun 2026 pekerjaannya telah selesai.
“Pekerjaan so (sudah) selesai. Yang sekarang sementara dilakukan pemeliharaan bangunan termasuk cat ulang di beberapa bagian yang kemarin pengecatannya kurang sempurna,” ungkap Lesawengen.
Ia mengatakan, terkait bangunan baru masa pemeliharaannya 6 bulan setelah pekerjaan selesai.
“Jadi kalo msh ada yang kurang sempurna, masih dimungkinkan untuk dilakukan perbaikan oleh penyedia,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, proyek revitalisasi atau perbaikan Museum Provinsi Sulawesi Utara yang bernilai fantastis, mencapai lebih dari Rp 14 Miliar, kini menuai kontroversi dan kecurigaan luas.
Proyek yang dikerjakan dengan pola “tambal sulam” ini dinilai tidak wajar dan berpotensi bernasib sama seperti pembangunan GOR KONI Sulut yang sempat menjadi sorotan publik.
Menurut sumber di Dinas Kebudayaan Sulut, kalangan seniman dan pengamat pembangunan di Manado sudah berkomentar terkait pembangunan dengan pola tambal sulam di Museum Sulut.
“Mereka menilai bahwa sesuai amatan dan hitung-hitungan mereka revitalisasi Museum Sulawesi Utara anggaran sebenarnya jauh di bawah Rp. 14 M, yaitu tidak lebih dari Rp 5 Miliar,” ujar sumber.
Selisih anggaran yang sangat jauh ini memunculkan dugaan kuat adanya mark-up. Aroma korupsi pun terasa sangat menyengat dari proyek yang digarap pada era kepemimpinan Kepala Dinas (Kadis) lama, Yani Lukas.
Kabar terbaru menyebutkan bahwa kejanggalan dalam proyek pembangunan ini kini sudah mulai dicium Aparat Penegak Hukum (APH).
Alhasil, hinggakini meski telah selesai Museum tak kunjung diresmikan dan dibuka pengoperasiannya.
Diketahui bersama bahwa komitmen keras Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus yang menegaskan tekadnya untuk memberantas praktik korupsi di seluruh lini pemerintahan.
“Kami tidak akan mentolerir penyalahgunaan anggaran. Uang rakyat harus digunakan sebaik-baiknya untuk rakyat,” tegas komitmen yang disuarakan Gubernur Yulius Selvanus dalam banyak kesempatan.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak terkait yaitu Yani Lukas sebagai tokoh kunci di balik proyek tersebut diminta untuk segera memberikan konfirmasi dan klarifikasi terkait rincian anggaran serta pelaksanaan pekerjaan yang dinilai tidak transparan dan tidak efisien tersebut.
Yani Lukas dihubungi wartawan via pesan WA tidak membalas meski telah membaca. Pun ditelepon meski aktif namun tidak diangkat.
Masyarakat kini menunggu, apakah proyek bernilai miliaran rupiah ini akan diselesaikan dengan tuntas dan transparan, atau justru akan menjadi kasus baru yang menyeret nama-nama besar di pemerintahan Sulawesi Utara.
























