
Manado – LP alias Lisa salah satu pelaku pembunuh Esrom Sentinuwu, Kepala Sekolah di SMA Adven Klabat, diduga sering melakukan pemerasan sebelum menghilangkan nyawa korban bersama tiga pelaku lainnya masing-masing, Brigadir JL alias Jeklin, JP alias Jil dan NP alias Novri.
Hal itu terungkap ketika sejumlah wartawan mengunjungi kediaman Almarhum di Kelurahan Bumi Beringin, Jumat (30/10/2015) siang. Jull Roleh istri korban mengatakan, jika sebelum dibunuh pelaku Lisa pernah menghubungi suaminya dan meminta sejumlah uang.
“Itu baru kami tau setelah suami saya dihabisi pelaku. Teman kerja suami saya bilang kalau dia (Lisa, red) pernah telepon dan meminta sejumlah uang,” kata istri korban dengan linangan air mata.
Bahkan kata istri tercinta korban, hingga terakhir kali mereka bertemu di Mawar Saron Samrat. Suaminya semat mampir di ATM untuk mengambil sejumlah uang.
“Itu juga dikatakan saksi. Mereka mengatakan kalau suami saya saat itu sempat mampir di ATM. Tapi kami belum mengecek berapa jumlah uang yang ditarik saat itu. Mengingat, ATM telah dibuang pelaku,” ungkap Ibu dua anak itu.
Ia juga menyesalkan pemberitaan di beberapa media cetak dan elektonik yang menyebutkan jika suaminya bersama pelaku Lisa menjalin hubungan. Lebih parahnya lagi, dalam pemberitaan tersebut tertulis bahwa suaminya yang pertama kali menghubungi pelaku Lisa.
“Itu tidak benar. Yang hubungi itu adalah pelaku. Kami tau karena penyidik yang bilang langsung. Kalau soal hugel itu mungkin adalah modus para pelaku untuk menutupi semua perbuatan mereka,” tambah Jull.
“Karena selama 40 tahun menjalin rumah tangga dengan korban. Saya dan anak-anak tidak pernah melihat ada yang ganjal. Suami saya kalau kemana-mana selalu kasih tau. Dia juga selalu pulang rumah. Jadi saya tidak percaya dengan pernyataan pelaku itu,” sambungnya.
Jull pun berharap, pihak kepolisian tidak berhenti dalam mencari jasad suami tercintanya itu. Selain itu, Jull juga meminta agar pelaku dapat diberikan hukuman yang setimpal. Meski begitu, pihak keluarga menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada polisi.
“Kami juga berharap untuk saat ini pemberitaan media bersikap netral. Kita tunggu keterangan dari penyidik Polri. Sebab apa yang diberitakan soal hugel itu tidak terungkap dalam penyelidikan di Inobonto. Kalau dalam penyelidikan bilang begitu kami bisa terima. Tapi kalau sudah dipelentir ke hugel kami tidak bisa terima,” ungkap Jull ditemani anak lelakinya, Endrow Sentinuwu.
Seperti informasi yang diperoleh Cybersulutnews. co.id, usai diculik, korban lalu dibunuh para pelaku. Jasad korban pun sempat dikubur selama beberapa jam oleh pelaku. Namun, karena merasa tidak puas, para pelaku kemudian menenggelamkan jasad korban di pantai Inobonto Bolmong.
Hingga kini, pihak polisi masih berupaya mencari keberadaan jasad pelaku yang sudah sekitar satu minggu berada di dalam air. Jasad korban sendiri tidak mengapung, karena pasca ditenggelamkan, para korban mengikat jasad korban dengan tali dan batu. (jenglen manolong)


























