
Manado- Aksi saling hujat yang diperlihatkan para Tim Sukses Capres –Cawapres RI 2014 akhir-akhir ini, dinilai mulai menjurus pada ancaman keretakan bangsa. Fenomena ini memaksa insan Pers di Sulut yang didukung para akademisi, menggelorakan Sepakat Indonesia Damai.
Alhasil, sekitar 70-an wartawan dari berbagai media yang ada di Sulut, melakukan aksi demo damai. Aksi gerakan moral tersebut, diawali di loby kantor gubernur pada, Jumat (20.06/2014) siang itu, juga didukung para Akademisi seperti Toar Palilingan, Taufik Tumbelaka dan Maria Tielung (mantan Noni Sulut).
Setidaknya, aksi ini digelar di empat titik, yang diawali dari kantor Gubernur Sulut, Sekretariat pemenangan pasangan Capres – Cawapres Jokowi –Jussuf Kalla dan Sekretariat pemenangan pasangan Capres – Cawapres Prabowo- Hatta di kantor DPD Golkar Sulut, kemudian berakhir di Zero Point.
Menariknya dalam aksi ini, Tim Sukses (TS) kedua kandidat Capres- Cawapres ini ikut menandatangani spanduk kesepakatan untuk Indonesia Damai yang dibawa para wartawan dan akademisi.
Dari kubu tim pemenangan Jokowi-JK, ditandatangani oleh Frangky Wongkar, Sekretaris DPD PDIP Sulut dan Djibton Tamudia Ketua DPRD Sitaro yang juga petinggi PDIP. “Atas nama Jokowi JK, kami sepakat Indonesia Damai,”tegasnya seraya menyebutkan pihaknya tidak melihat sesama anak bangsa adalah musuh dan lawan saat menerima rombongan aksi damai di depan kantor sekertariat PDIP di jalan Babe Palar Manado.
Sementara dari kubu tim pemenangan Prabowo-Hatta ditandangani oleh Syarif Wakid dan politisi Golkar Sulut Victor Rompas serta Abid Takalamingan Politisi PKS saat menerima rombongan aksi damai ini di kantor DPD Golkar di jalan Martadinata Manado.
Dalam orasinya Takalamingan, mengapresiasi gerakan moral Indonesia Damai. Soal kampanye hitam menurut dia, tak pernah dikehendaki oleh tim Prabowo Hatta.
Sebelumnya, saat berada diloby kantor gubernur puluhan wartawan dari berbagai media di Sulut yang didukung sejumlah akademisi ini, telah mendeklarasikan ”Sepakat Indonesia Damai”. Aksi spontanitas para pekerja Pers inipun disambut positif pejabat Pemprov Sulut.
“Kami atas nama Gubernur, Wakil Gubernur dan Sekdaprov Sulut menyambut baik aksi ini. Apalagi posisi kami sebagai PNS yang mengharuskan untuk bersikap netral. Pun pak gubernur meski sebagai ketua tim pemenangan pasangan Jokowi-JK, tidak pernah memerintahkan untuk mendukung atau memilihnya. Pak gubernur berpesan, pilihlah sesuai hati nurani. Salut untuk aksi Sepakat Indonesia Damai,”kata Asisten 3 Setdaprov Sulut Nixon Watung SH saat didampingi Kaban Kesbangpol Gun Lapadengan SH, Karo Orpeg Jemmy Ringkuangan dan Kabag Humas Jemmy Kumendong.
Dalam kesempatan itu, secara bergantian para wartawan melakukan orasi, mulai dari Budi Rarumangkay (sulutonline), Ricard Sanger (beritamanado) dan Yudith Rondonuwu (Tribun Manado).“Marilah kita hadirkan pesta demokrasi yang bermartabat, beradab, elegan. Pesta demokrasi adalah suatu kegembiraan bukan ketakutan. Kita semua setuju Indonesia Bangkit ! Kita semua setuju Indonesia Hebat !, tapi kita semua juga harus Sepakat Indonesia Damai,”teriak mereka secara bergantian yang dilanjutkan pembacaan deklarasi pernyataan sikap Sepakat Indonesia Damai oleh Rondonuwu. .
Toar Palilingan, akademisi Unsrat ikut turun dalam aksi itu. Dalam orasinya Toar mengemukakan, seharusnya kampanye pasangan calon tidak seharusnya mengdiskreditkan lawan.”Saya hadir di kesempatan ini sebagai salah satu bentuk keprihatinan dan mendukung gerakan moral Indonesia damai,” katanya.
Seharusnya materi kampanye berisi visi misi, tapi saat ini yang terjadi tim sukses menampilkan materi saling tangkis menangkis isu tak jelas, bahkan cenderung berita bohong. Ia juga mengimbau, para akademisi jangan sampai terlibat dalam upaya mendiskreditkan pasangan capres lewat komentar-komentar.
“Setidaknya, aksi demo damai yang berakhir di Zero point pusat Kota Manado ini, sudah kita gaungkan. Kami berharap aksi ini juga dilakukan rekan-rekan di provinsi lain,”ujar Taufik Tumbelaka saat mengakhiri aksi ini di Zero Point Manado.




















