Minut — Air mata haru tak terbendung di wajah pasangan Eiberhart Kapugu dan Lily Dolang, warga Desa Wusa, Kecamatan Talawaan, Kabupaten Minahasa Utara, ketika seluruh utang keluarga mereka dilunasi oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Dukbangga)/Kepala BKKBN, Dr H Wihaji, Sabtu (11/10/2025).
Keluarga sederhana yang sehari-hari hidup pas-pasan ini seolah tak percaya mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat.
“Torang so nda sangka, seperti mimpi… ternyata masih ada yang peduli sama torang orang kecil,” ucap Lily Dolang dengan suara bergetar, menahan haru di depan rumah papan mereka yang sederhana.
Eiberhart, sang suami, bekerja sebagai sopir serabutan, sementara Lily mengurus rumah dan empat anak mereka. Hidup mereka tak mudah — penghasilan tak menentu, biaya sekolah anak menumpuk, dan utang di warung menjerat mereka beberapa bulan terakhir.
Namun semua berubah ketika Menteri DUKBANGGA datang berkunjung dalam rangkaian kunjungan kerja di Minahasa Utara. Setelah mendengar cerita keluarga Kapugu-Dolang dari aparat desa, sang menteri tergerak hati untuk membantu secara pribadi.
Tanpa banyak bicara, beliau memutuskan untuk melunasi seluruh hutang keluarga tersebut, sekaligus menyerahkan bantuan sembako dan biaya pendidikan bagi anak-anak mereka.
“Bantuan ini bukan karena kasihan, tapi karena setiap keluarga berhak hidup dengan tenang dan bermartabat. Jangan pernah berhenti berharap, Tuhan bekerja lewat banyak cara,” ujar Menteri DUKBANGGA dengan nada lembut yang disambut tepuk tangan warga.
Momen itu menjadi saksi kehangatan antara pejabat dan rakyat kecil. Lily Dolang langsung memeluk anak-anaknya sambil menangis.
“Terima kasih banyak… ini berkah yang torang nda pernah bayangkan. Sekarang torang bisa mulai hidup baru tanpa takut ditagih utang,” katanya.
Bagi keluarga Kapugu-Dolang, hari itu menjadi titik balik kehidupan. Bukan sekadar soal uang atau bantuan, tapi tentang rasa diperhatikan, dihargai, dan dimanusiakan.
Di tengah hiruk-pikuk pembangunan dan berita politik, kisah kecil dari Desa Wusa ini mengingatkan bahwa kebijakan terbaik adalah yang menyentuh hati manusia — seperti yang dilakukan oleh Menteri DUKBANGGA, yang menyalakan kembali harapan di tengah kesederhanaan.




















