Manado – Sebanyak 2,4 ton cabai rawit merah varietas Patalan hasil bumi Probolinggo, Jawa Timur, resmi mendarat di Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi Manado pada Senin malam, 14 September 2026.
Kedatangan komoditas ini merupakan tindak lanjut nyata sinergitas Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulawesi Utara bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara dalam menekan laju inflasi daerah yang terus meningkat.
Kedatangan kiriman cabai tahap pertama ini disambut langsung oleh Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut, Joko Supratikto, beserta jajarannya, didampingi Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Provinsi Sulut, Jemmy Ringkuangan, di Terminal Kargo Bandara Sam Ratulangi.
Dalam keterangannya kepada awak media, Joko Supratikto menegaskan langkah strategis ini diambil karena laju inflasi Sulawesi Utara telah mencapai 3,86 persen, angka yang lebih tinggi dari target maupun di atas rata-rata nasional.
“Salah satu pendorong utama inflasi di Sulut adalah kelompok pangan bergejolak (volatile food), di mana komoditas cabai rawit menyumbang tekanan sebesar 0,33 persen. Cabai menjadi pemicu inflasi yang paling cepat terasa masyarakat, makanya jalan keluar yang cepat dan tepat adalah menambah pasokan yang menipis akibat musim kemarau berkepanjangan,” ujar Joko.
Survei harga di pasaran menunjukkan harga cabai rawit sempat melonjak mencapai Rp140.000 hingga Rp200.000 per kilogram, memicu keluhan luas dari masyarakat.
Pemilihan cabai rawit asal Probolinggo bukan tanpa alasan. Joko menjelaskan karakteristik rasa dan kualitasnya hampir serupa dengan cabai asal Gorontalo yang biasa dikonsumsi masyarakat Sulut, namun tetap terjangkau untuk dijual sesuai Harga Acuan Pemerintah (HAP) sebesar Rp57.000 per kilogram. Selisih harga ini diharapkan segera menurunkan tekanan harga di pasar tradisional.
“Kami ingin masyarakat merasakan dampak langsung: harga wajar, stok terjamin. Ini intervensi pasar yang terukur dan terarah,” tambahnya.
Sebanyak 2,4 ton cabai rawit tahap pertama ini segera didistribusikan ke empat titik pasar utama:
– Pasar Bersehati & Pasar Pinangsungkulan — Kota Manado
– Pasar Airmadidi — Kabupaten Minahasa Utara
– Pasar Amurang — Kabupaten Minahasa Selatan
Seluruh proses penyaluran diawasi bersama Dinas Perkebunan dan Satgas Pangan guna memastikan harga jual tetap sesuai acuan dan barang sampai tepat sasaran tanpa penimbunan.
Sementara itu, Asisten II Setda Sulut, Jemmy Ringkuangan, menegaskan intervensi ini bukan langkah sesaat. Mengutip prediksi BMKG bahwa musim kemarau diperkirakan berlanjut hingga awal tahun 2027, ditambah kebutuhan komoditas cabai yang pasti meningkat menjelang perayaan Natal, maka pengiriman cabai dari luar daerah akan terus dilakukan secara berkelanjutan.
“Ini bukti nyata kehadiran negara di tengah keluhan masyarakat. Sinergi TPID dan BI Sulut tidak berhenti di sini. Selama tekanan pasokan masih ada, kami akan terus menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga pangan strategis di Sulawesi Utara,” tegas Ringkuangan.
Langkah ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas lembaga, pemerintah daerah dan otoritas moneter, adalah kunci utama dalam menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian iklim.




















