Minut – Pasar Dimembe yang dibangun Pemkab Minut dengan anggaran milyaran rupiah tidak terurus.
Akibatnya pasar ini sepi pengunjung. Masyarakat lebih memilih berbelanja di Pasar yang berada di Desa Tatelu.
Namun Pemkab Minut melalui Kadisperindag Drs Rivino Dondokambey menyatakan geliat di pasar ini cukup ramai. Menurutnya masyarakat banyak yang berdagang dan berbelanja di pasar tradisional ini. Ia bahkan menuturkan setiap hari ia berkunjung memantau Pasar Dimembe.
Menjelang Perayaan Natal dan Tahun Baru serta pasca kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), Disperindag Minut selalu koordinasi dengan pihak pengelola pasar.
“Untuk sembako meskipun ada kenaikan, namun stok tetap tersedia. Sedangkan Pasar Dimembe, terus beroperasi kian hari kian ramai, dan saya selalu pantau setiap hari,” katanya .
Menanggapi keadaan Pasar Dimembe yag terbengkalai sejak awal itu, Ketua LSM Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI), Howard Pengky Marius, menilai ada hal tak wajar yang terjadi sehingga pedagang dan pengunjung menghindari pasar itu.
“Walau itu baru dugaan, tapi saya rasa saat pasar sementara dibangun, mungkin sudah ada sistem jatah-jatahan dan bagi-bagi lapak,” tukas dia seraya menambahkan, apalagi dalam pembuatan proyek pasar tersebut ada indikasi menyimpang.
“Memang posisi pembuatan pasar sudah tidak ada pemanfaatan. Karena baru menginjak setahun sudah terbengkalai. Dan kami akan laporkan dugaan penyimpangan dalam proyek yang mencapai 5,2 Miliar dalam pembuatan pasar tersebut,” ungkap Howard yang akrab disapa Pengky itu.(eca gops)



















