
Manado – Pasar Lelang Komoditi Agro (PLKA) kedepan bakal direvitalisasi.
PLKA yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut memberi andil dalam pergerakan usaha dan komoditi di Sulut. Dalam setiap pelaksanaan, transaksi yang dihasilkan mencapai miliaran rupiah.
“PLKA ke enam ini membukukan transaksi hingga Rp19,811 Miliar dengan komoditi jagung sebesar 97 persen,” katanya.
Namun untuk memaksimalkan peran, pengelolaan PLKA akan diserahkan ke pihak swasta. Disperindag hanya akan menjadi tim pengawas. Hal ini dikatakan Kepala Biro Pasar Fisik dan Jasa Badan Pengawas dan Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Ismajaya di sela sela PLKA ke-6 di Manado kamis (17/10).
Swastanisasi tersebut, dalam rangka lebih meningkatkan profesionalisme pasar lelang sehingga dampak positifnya bisa semakin dirasakan. Ismajaya mengatakan persiapan ke arah itu kini tengah dilakukan.
“Peran pemerintah yang selama ini mendominasi dalam ajang Pasar Lelang Komoditi Agro (PLKA), rencananya dalam waktu dekat peran tersebut akan dikurangi. Swasatanisasi ini akan menempatkan pemerintah hanya sebagai pembina, bukan sebagai penyelenggara seperti yang selama ini berjalan,” kata Ismajaya.
Keuntungan dari swastanisasi ini adalah dengan meniru seperti ajang serupa yang dilakukan di luar negeri, maka diharapkan PLKA akan dilaksanakan secara profesional.
Kepala Disperindag Sulut Olvie Ateng menyambut baik rencana ini. menurutnya keterlibatan petani lokal memang masih sedikit dalam tiap pelaksanaan PLKA. Itu terjadi karena di ajang PLKA ini masih didominasi oleh pebisnis tertentu sebagai penjual. “Dengan swastanisasi diharapkan akan lebih optimal,”ujarnya yang didampingi kepala bidang Perdagangan Dalam Negeri Hanny Wayong .
Katanya, dalam PLKA ke enam ditransaksikan sebanyak delapan komoditi dan ada pembeli dari Jawa Timur yang membeli komoditi jagung asal Sulut.(Nan)




















