Kapal Perang Angkut Rp 5,5 Miliar, BI dan TNI AL Perkuat Kedaulatan Ekonomi ke Pulau 3T

Bitung – Kapal perang TNI Angkatan Laut KRI Selar-879 kembali mengemban misi negara yang bukan bersenjata: mengantarkan uang Rupiah layak edar senilai Rp 5,5 miliar ke lima pulau terluar di wilayah perbatasan utara Indonesia.

Pelepasan Tim Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026 dilakukan Bank Indonesia (BI) bersama TNI AL dari Satrol Kodaeral VIII Bitung, Sulawesi Utara, pada Selasa (23/6/2026).

Dalam waktu tujuh hari pelayaran, tim gabungan BI dan TNI AL akan menyinggahi Pulau Salibabu, Makalehi, Karatung, Kabaruan, dan Miangas untuk mendistribusikan uang baru, menarik uang lusuh, serta menjalankan program edukasi “Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.”

Kepala BI Sulut, Joko Supratikto, menyatakan misi ini bukan sekadar layanan kas.

“Kehadiran Rupiah di wilayah terluar bukan hanya soal transaksi ekonomi, tetapi simbol nyata kedaulatan negara. Kolaborasi ini menunjukkan kedaulatan ekonomi sama pentingnya dengan aspek pertahanan,” ujarnya.

Rangkaian Ekspedisi dan Dampak Anggaran
Ekspedisi Rupiah Berdaulat merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 yang mengamanatkan BI menjaga ketersediaan uang layak edar di seluruh NKRI.

Sejak 2012, BI dan TNI AL telah melaksanakan sekitar 150 ekspedisi kas keliling, menjangkau 766 pulau 3T.

Pada 2025, distribusi melalui program ini mencapai Rp 156 miliar ke 91 pulau; tahun ini BI menargetkan 23 kegiatan ERB dengan cakupan 115 pulau.

Secara fiskal, operasi semacam ini mencerminkan alokasi biaya non-operasional untuk menjaga fungsi sistem pembayaran dan stabilitas moneter di wilayah kepulauan.

Nilai Rp 5,5 miliar yang dibawa KRI Selar-879 relatif kecil dibandingkan belanja negara, namun efektivitas distribusi kas terhadap inklusi keuangan lokal, kepercayaan masyarakat pada Rupiah, dan pencegahan penggunaan mata uang asing di daerah perbatasan memiliki nilai ekonomi dan strategis yang signifikan.

Tiga Misi Utama: Uang, Kualitas, dan Literasi
Tim ERB Sulawesi Utara yang berjumlah 15 personel akan bekerja sama dengan prajurit TNI AL untuk:
Mendistribusikan uang Rupiah layak edar ke masyarakat pulau terluar.

Menarik uang lusuh atau rusak agar kualitas sirkulasi Rupiah tetap terjaga.

Memberikan edukasi mengenai pentingnya Rupiah melalui program Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.

Praktik penarikan uang lusuh penting untuk mengurangi biaya ekonomi akibat transaksi dengan uang tidak layak (biaya verifikasi, penolakan, dan substitusi mata uang).

Di wilayah perbatasan, kelancaran pasokan uang tunai juga mencegah ketergantungan informal pada mata uang asing yang dapat melemahkan transmisi kebijakan moneter.

Pelayaran ke pulau-pulau 3T memerlukan koordinasi tinggi-keamanan pengawalan, manajemen kas di kapal perang, dan jaminan akses masyarakat untuk menerima layanan.

Risiko seperti kondisi cuaca, infrastruktur lokal yang minim, dan potensi biaya operasi yang meningkat menuntut perencanaan anggaran yang matang serta sinkronisasi antar-instansi.

Makna Lebih Luas bagi Inklusi Keuangan
Selain menjaga ketersediaan fisik Rupiah, ERB berkontribusi pada inklusi keuangan riil.

Kehadiran petugas BI memungkinkan penguatan saluran pembayaran lokal, memfasilitasi transaksi pemerintah daerah (mis. pembayaran tunai bantuan sosial), dan memberi kesempatan sosialisasi sistem pembayaran digital jika infrastruktur memungkinkan.

Dengan kata lain, program ini menggabungkan tujuan moneter, fiskal, dan pemberdayaan ekonomi wilayah terpencil.

Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 mempertegas bahwa kedaulatan ekonomi diwujudkan hingga ke garis depan negara. Meski nilainya tampak kecil dibanding anggaran nasional, efeknya pada stabilitas moneter, kepercayaan publik, dan integrasi ekonomi wilayah perbatasan membuat program ini strategis bagi pembangunan yang inklusif.

Tinggalkan Balasan