Sulut Pacu Investasi, BI dan Pemprov Gelar Capacity Building Siapkan Proyek Siap Investasi

Manado – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara bersama Pemerintah Provinsi menggelar kegiatan Capacity Building Penyiapan Teknis dan Substantif Proyek Investasi pada Rabu (17/6/2026) di Sentra Hotel, Minahasa Utara. Kegiatan ini bagian dari upaya mempercepat aliran modal melalui North Sulawesi Investment Challenge (NSIC) 2026.

Kepala BI Sulawesi Utara, Joko Supratikto, menyoroti capaian investasi triwulan I 2026 yang baru mencapai sekitar 18 persen dari target tahunan Rp 12,13 triliun, atau realisasi sekitar Rp 2,13 triliun.

“Ini menjadi tantangan yang harus segera dijawab melalui penguatan kualitas proyek investasi dan peningkatan daya tarik daerah bagi investor,” kata Joko.

Dalam forum itu, BI menegaskan peran Regional Investor Relations Unit (RIRU) untuk menyiapkan proyek berstatus ready to offer serta clean and clear—kriteria krusial agar proyek cepat diserap modal.

Joko mengutip keberhasilan NSIC 2025, di mana sejumlah inisiatif seperti Kawasan Industri Perikanan Sangihe dan layanan transportasi BTS Manado berhasil masuk tahap pendanaan setelah mendapat pendampingan teknis.

Kepala DPMPTSP Provinsi Sulawesi Utara, Hermina Syaloom Korompis, menggarisbawahi kebutuhan data akurat, kepastian hukum, dan kelayakan proyek sebagai penentu keputusan investor.

“Investor mencari daerah yang siap, memiliki data yang akurat, kepastian hukum yang jelas, serta proyek yang benar-benar layak untuk ditawarkan. Karena itu, kualitas proyek investasi harus terus ditingkatkan,” kata Hermina.

Dampak ekonomi dan strategi ke depan
Percepatan realisasi investasi dipandang strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi regional, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat konektivitas sektor unggulan seperti perikanan, pariwisata, dan infrastruktur logistik.

Fokus pada proyek ready-to-offer mengurangi biaya transaksi bagi investor (due diligence lebih cepat) dan meningkatkan peluang komitmen pembiayaan dalam jangka pendek hingga menengah.

Implementasi capacity building yang memadukan aspek teknis, regulasi, dan kesiapan pasar diharapkan menambah portofolio proyek berkualitas yang menarik investor domestik dan asing.

Kinerja triwulan I menunjukkan kebutuhan sinergi lebih erat antara pemerintah daerah, BI, dan lembaga penunjang investasi untuk memperpendek rantai persiapan proyek.

Selain pendampingan teknis, langkah kebijakan yang mendukung, seperti insentif fiskal terukur, penyederhanaan perizinan, dan peningkatan data investasi terintegrasi akan memperkuat daya saing Sulawesi Utara.

Capacity building NSIC 2026 bukan sekadar pelatihan; ini upaya sistemik menyiapkan “produk investasi” yang mampu bersaing dan diserap pasar modal.

Keberhasilan program akan terlihat saat proyek unggulan berubah dari konsep menjadi konstruksi dan menyumbang realisasi di sisa tahun anggaran.

Tinggalkan Balasan