
Manado – Dibalik pembangunan jembatan Soekarno yang baru bisa diselesaikan selama
12 tahun, ternyata ada mantan walikota Manado, Wempie Frederik dan mantan wakil
walikota Manado, Teddy Kumaat yang menggolkan jembatan tersebut hingga disetujui
pemerintah pusat dengan nama mantan Presiden Pertama RI itu.
Demikian namanya jembatan Soekarno yang baru saja diresmikan pada, Kamis
(28/05/2015), oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
RI, Puan Maharani, yang notabene merupakan anak mantan Presiden RI, Megawati
Soekarnoputri atau cucu Presiden pertama RI, Soekarno ini, ternyata sudah banyak
bergeser dari rencana awal tujuan dari pembangunan jembatan tersebut, atau
berdasarkan blueprint awal pembangunan jembatan serta potensi pengembangan ekonomi
dan pariwisata di Kota Manado, khususnya kawasan Manado Utara.
Kepada cybersulutnews.co.id, mantan wakil walikota Manado, Teddy Kumaat yang dikonfirmasi
banyak mengungkapkan mengenai dibalik pembangunan jembatan tersebut.
“Awalnya jembatan itu bernama jembatan Nyiur Melambai. Namun tak kunjung direstui
oleh pemerintah pusat. Sehingga waktu itu saya bersama Pak Wempie Frederik, mantan
Walikota Manado mengubah nama menjadi jembatan Soekarno, dimana waktu itu Pak
Taufik Kemas yang kami temui langsung menyetujui untuk pembangunan jembatan dengan
nama jembatan Soekarno,” kata Kumaat yang saat ini tercatat sebagai wakil rakyat di
DPRD Sulut, daerah pemilihan (dapil) Kota Manado.

Dijelaskan Kumaat, bahwa dirinya dengan sepersetujuan mantan walikota Manado,
Wempie Frederik, awalnya mengajukan proposal yang dipresentasikan di tahun 2002
pembangunan jembatan Soekarno ke KomIsi IV DPR RI dengan pimpinan Teddy Kumaat,
bersama Revin Lewan, eks Kabag Bipram Pemkot Manado dan Otniel Kojansouw, Kepala
Dinas Pekerjaan Umum (PU) Manado pada saat itu.
“Tahun 2002 itu setelah presentasikan di Komisi IV DPR RI, lalu kami lanjutkan ke
Departeman Pekerjaan Umum (PU), yang hasilnya memuaskan dengan mendapat persetujuan
untuk pembangunan jembatan Soekarno,” ujar Kumaat.
Lanjut kader PDI Perjuangan ini, konsep awal berdasarkan blueprint pembangunan
jembatan Soekarno berdasarkan tiga hal, yakni mengurai kemacetan di Kota Manado,
pengembangan ekonomi kawasan Utara Manado dan pengembangan wisata atau menjadi
obyek wisata.
“Pembangunan jembatan Soekarno itu bukan hanya parsial saja, melainkan konferensif
terutama untuk pengembangan kawasan revitalisasi pusat Kota Manado dengan salah
satunya pengembangan atau pembangunan kawasan ekonomi dan kawasan pariwisata
Manado. Dan konsep pengembangan kawasannya terlihat ada pergeseran. Sejak tahun
2003 Presiden Megawati meresmikan pancangan pertama tiang jembatan, dengan target
bangun hingga tahun 2007, namun adanya kendala hingga baru bisa diselesaikan pada
tahun 2015 ini, tetapi sudah bergeser dari blue print yang ada,” ungkap Kumaat.
Dikatakannya, jembatan Soekarno yang diresmikan saat ini seharusnya memiliki puncak
yang bisa digunakan sebagai tempat bersantainya warga atau turis yang memiliki lift
atau tangga untuk bisa menikmati Kota Manado dari puncak jembatan Soekarno itu.
“Ini puncak jembatan tersebut tidak ada, trotoar hanya berjarak 1 meter saja yang
seharusnya3 meter lebih. Belum ditambah kesatuan pada proyek itu, yakni tugu lilin
yang seharusnya bisa lebih baik lagi sehingga menjadi ikon Kota Manado bahkan
satu-satunya di dunia dengan memiliki konvention hall serta lift atau tangga yang
bisa membawa turis atau warga ke puncak tugu lilin dengan dilengkapi api yang
sesungguhnya, dan itu bisa dilakukan,” ucapnya sembari menyatakan dengan Pemilukada
Kota Manado saat ini, siapapun yang terpilih dirinya akan memperjuangkan konsep
refitalisasi Kota Manado sesuai blue print awal pembangunan jembatan Soekarno
tersebut.(vebry)


























