by

Gempur Gelar Aksi Demo Damai di Depan Kantor Bupati Minahasa

Minahasa – Ratusan mahasiswa yang menamakan diri Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat (Gempur), melakukan aksi demo damai di depan Kantor Bupati Minahasa di Tondano, Rabu (14/04) siang.

Dalam orasi mereka, Gempur menuntut pemerintah menjamin ketersediaan bahan bakar minyak dan menjaga distribusinya. Selain itu, mereka juga menolak kenaikan harga bahan pangan dan meminta pemerintah agar wajib mengontrol pasar.

Gempur juga dalam orasinya menolak kenaikan PPN karena momentumnya belum tepat. Juga, menuntut janji Menteri Dalam Negeri mengusut tuntas mafia minyak goreng yang menyebabkan harga naik.

Gempur menuntut agar pemerintah memberikan hak pengelolaan tanah secara penuh kepada warga di Desa Kalasey II sebagai wujud Reforma Agraria. Mereka nendesak Komnas HAM RI untuk mengawasi dan memantau sesuai dengan kewenangannya, serta memberikan perlindungan terhadap warga Kalasey Il dari potensi pelanggaran Hak Asasi Manusia yang akan dilakukan oleh Pemprov Sulut. Selain itu, menuntut Pemerintah Kabupaten Minahasa untuk menyelesaikan permasalahan Kelelondey secepatnya dan berpihak pada para petani.

Mereka juga menuntut Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara mencabut Pemberian Hibah Pemrov Sulut kepada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di tanah Perkebunan Kalasey Il dan mendorong Pemprov Sulut untuk menetapkan Captikus sebagai kearifan lokal lewat Perda legalitas Captikus.

Usai berorasi menyampaikan aspirasi, para mahasiswa ini lalu meminta diijinkan masuk ke dalam Kantor Bupati untuk melakukan diskusi dengan Bupati Minahasa Dr Ir Royke Octavian Roring MSi dan Wakil Bupati Robby Dondokambey SSi.

Permintaan mereka tak diijinkan dan dihadang hanya sampai di depan gerbang pintu masuk Kantor Bupati saja. Sempat terjadi perundingan dengan perwakilan Pemerintah Kabupaten Minahasa yang diwakili Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Minahasa Drs Riviva Maringka MSi, Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Ir Wenny Talumewo MSi dan Asisten III Bidang Administrasi Umum Dr Christian Vecky Tanor SPi MSi serta Kapolres Minahasa AKBP Tommy Bambang Soussa SIK, untuk masuk sampai ke dalam Kantor Bupati, namun tak diijinkan dengan alasan teknis.

Diskusi kemudian akhirnya terjadi sambil melantai di aspal. Baik perwakilan Pemkab Minahasa dan Kapolres Minahasa, juga mahasiswa pendemo sama-sama melakukan diskusi dengan melantai di aspal.

Asisten I Reviva Maringka kemudian menanggapi apa yang menjadi orasi dari para mahasiswa yang mengatasnamakan rakyat ini.

“Kami senang para mahasiswa menyampaikan aspirasi karena mahasiswa menjadi penyambung lidah rakyat. Kedepan pemerintah bisa memfasilitasi dengan melakukan diskusi-diskusi yang lebih terarah,” kata Maringka.(fernando lumanauw)

Comment

Leave a Reply

News Feed