Minahasa – Pasca terlibat bentrok yang melibatkan Mahasiswa asal Provinsi Papua dan Papua Barat dengan warga Kelurahan Tataaran Kecamatan Tondano Selatan, Oktober 2014 lalu, kini kedua belah pihak sepakat untuk berdamai.
Kesepakatan damai ini ditandai dengan penanda tanganan surat kesepakatan damai (MoU) antara kedua belah pihak, bertempat di halaman kantor pusat Universitas Negeri Manado di Tondano, Kamis (16/01) dan disaksikan langsung Gubernur Sulawesi Utara, DR Sinyo Harry Sarundajang dan Gubernur Papua, Lukas Emenbe, serta mewakili Gubernur Papua Barat, anggota DPD RI asal Sulut, Maya Rumantir dan Fabian Sarundajang, Forkompimda Sulut, para pejabat dari tiga provinsi, Bupati Minahasa, Drs Janjte Wowiling Sajow MSi, Wakil Bupati Minahasa, Ivan SJ Sarundanjang, pihak UNIMA, Forkompinda Minahasa, para jajaran Pemkab Minahasa, dan ribuan mahasiswa Papua serta warga Tataaran.
Gubernur Papua, Lukas Emende dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada pemerintah dan masyarakat Sulut, yang telah menggelar kegiatan ini.
Dirinya kemudian meminta kepada seluruh mahasiswa Papua yang ada saat ini di Sulut yang sementara menimba ilmu di tanah Nyiur Melambai agar bisa menjaga keamanan dan kebersamaan pasca digelarnya rekonsiliasi ini.
“Saya meminta kepada anak-ana asal Papua yang menimba ilmu di Sulut ini, agar belajar dengan baik dan menghindari pergaulan dan perbuatan buruk. Bentrok yang terjadi beberapa waktu lalu harus menjadi pelajaran berharga agar tidak terulang lagi dikemudian hari. Mari kita bangkit lagi, dan bergaul dengan siapa saja, ciptakan kebersamaan dilingkungan masing-masing saudara berada,” ujarnya sembari berharap, kedepan tidak akan ada lagi kejadian seperti ini.
Gubernur Sulut Sinyo Harry Sarundajang juga dalam sambutnya berharap, dengan adanya rekonsiliasi ini perdamaian di antara kedua belah pihak akan terus tarjalin selamanya.
“Marilah kita saling menghargai satu sama lain. Adik-adik mahasiswa asal Papua sudah bisa belajar dengan tenang dan hasil rekonsiliasi ini harus dijaga dengan baik. Utamakan belajar dan hilangkan apa yang tidak baik yang terjadi sebelumnya, mari kita menyatu. Silakan menambang ilmu sedalam-dalamnya, yang tentunya untuk tanah Papua dan indonesia. Terima kasih, kepada Gubernur Papua dan Papua Barat, yang sudah bisa berkenan hadir,” ujarnya sembari meminta kepada seluruh pihak, agar tidak ada lagi tuntutan pasca rekonsiliasi yang dinilai sebagai totalitas.
Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian bantuan oleh pemerintah Papua dan Papua Barat kepada warga Tataaran, penanda-tanganan kesepakatan damai, makan bersama dari hasil upacara bakar batu ala adat Papua untuk menandai perdamaian yang dilakukan oleh para mahasiswa papua dan ditutup dengan ibadah Natal bersama di Audotorium UNIMA.(fernando lumanauw)




















