by

Terzolimi, ‘Banteng Asli’ Minsel Mengadu ke Gubernur

Manado – Sejumlah kader senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Rabu (05/01/2022) bertandang ke kantor Gubernur Sulut.

Kedatangan para Kader PDI-P yang mengaku Banteng Asli ini hendak menyampaikan aspirasi kepada Ketua DPD PDI-P Sulut yang notabene Gubernur Sulut, Olly Dondokambey.

Mereka mengadukan ketidakpuasan mereka terhadap Pemkab Minsel atas penempatan Camat di Kecamatan Modoinding.

Mereka mengaku kecewa karena Camat yang ditempatkan di Modoinding merupakan anak dari oknum yang menindas mereka di masa Order Baru.

“Belum hilang rasa sakit akibat kuku jari dicabut akibat ulah represif rezim orde baru yang didalangi ayah dari oknum Camat Modoinding tersebut,” ujar Raimond Rauw yang didampingi Erol Mamahit, Rommy Mandikan serta Boy Mende.
Mereka meminta agar Camat Motoling diganti. “Penempatan Camat Modoinding yang adalah anak dari oknum yang pernah menindas kader PDI sangat melukai hati kami,” ujar Ruauw.

Lanjut ia mengatakan alasannya bersama pejuang partai ‘menghadap’ pimpinan karena perjuangan mereka seakan tak dihargai.

“Soalnya sampai saat ini Torang pe perjuangan tidak diperhatikan,” keluhnya.

Padahal, keluhan mereka ini sudah sempat disampaikan ke salah satu pengurus DPC PDI-P, namun aspirasi itu tak diindahkan.

Para pejuang yang membesarkan PDIP Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) ini meminta untuk tidak melupakan perjuangan mereka.

Mereka bahkan mengancam akan melakukan aksi penutupan kantor camat Modoinding. “Kami telah mengurus izin ke kepolisian untuk memalang kantor Camat. Tapi langkah pemalangan belum kami lakukan karena masih melakukan upaya persuasif dengan menyampaikan aspirasi ke Ketua DPD PDI-P Sulut,” imbuhnya.

Di kantor Gubernur mereka diterima senior partai sekaligus Staff Khusus Gubernur Sulut,Janes Parengkuan dan Jus Tumurang.

Sesepuh PDI-P Janes Parengkuan didampingi Jus Tumurang mengatakan aspirasi mereka harus diperhatikan oleh segenap pengurus DPC PDIP se-Sulut.

“Saya minta aspirasi ini harus diperhatikan. Karena dorang mempertaruhkan jiwa dan raga pada tahun ‘92 (1992),” tegas Parengkuan.

Comment

Leave a Reply

News Feed