Tolak Eksepsi Salindeho, Perkara Korupsi Solar Cell Masuk Pokok Perkara

Terdakwa FDS alias Salindeho saat menjalani persidangan.

Manado,Cybersulutnews-Nasib terdakwa FS alias Salindeho, kian terpojok. Pengajuan Eksepsi atau Nota Keberatan yang diajukan penasehat hukumnya di persidangan akhirnya ditolak Majelis Hakim.

Dalam agenda sidang putusan selanya. Majelis Hakim, Julien Mamahit, Halidjah Waliy, Wenni Nanda telah memutuskan bahwa berkas perkara ini tetap berlanjut pada pemeriksaan pokok perkara. Hal itu ditetapkan, setelah mempertimbangkan ketentuan yang tercatat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), eksepsi yang diajukan pihak terdakwa, serta tanggapan JPU atas eksepsi terdakwa.

Selain itu, Majelis Hakim juga menilai kalau eksepsi yang diajukan Penasehat Hukum terdakwa ternyata telah menyentuh pokok perkara. Sehingga, Majelis Hakim memilih untuk tetap melanjutkan persidangan, dengan memerintahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Alexander Sulung untuk menghadirkan para saksi pada sidang berikut.

“Menolak eksepsi yang diajukan Penasehat Hukum terdakwa, memerintahkan JPU untuk menghadirkan saksi-saksi dan tetap menghadirkan terdakwa,” tegas Majelis Hakim.

Sekedar diketahui, dalam perkara korupsi berbanderol Rp9,6 miliar ini, Salindeho sewaktu itu berperan sebagai Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP).

Dirinya didakwa bersalah JPU, karena diduga kuat turut terlibat atas perkara korupsi Solar Cell yang merugikan negara sebesar Rp3 miliar lebih.

Dalam dakwaan JPU, dituturkan bahwa terdakwa Salindeho bersama anggota Pokja ULP lainnya, tidak melakukan pengecekan atas penawaran jaminan Penawaran (Bank Garansi) yang diajukan PT Subota International Contractor. Padahal, Bank Garansi tersebut tidak tercatat dalam sistem Bank Mandiri.

Menurut ketentuan, PT Subota seharusnya digugurkan pihak Pokja ULP. Namun, anehnya terdakwa bersama anggota Pokja ULP lainnya malah meloloskan perusahaan tersebut.

Hebatnya lagi, sebelum proyek dikerjakan dan proses lelang tender digelar, terdakwa Salindeho bersama tersangka BJM alias Mailangkay, telah terlibat pertemuan dengan terpidana Ariyanti Marolla, terpidana Lucky Dandel dan terpidana Robert Wowor di Hotel Quality Manado.

Sementara itu, berdasarkan fakta persidangan sebelumnya, terkuak kalau terpidana Ariyanti bertandang ke Manado atas perintah terdakwa Paulus Iwo (proses Kasasi), guna menawarkan brosur solar cell kepada pihak Dinas Tata Kota Manado, yang saat itu berada di bawah kendali tersangka Mailangkay.

Adapun ketika proyek dikerjakan, akhirnya terungkap bahwa baterai Bulls Power yang dibeli Iwo di Cina bersama saksi Irene Netty ternyata tidak sesuai dengan kontrak. Dimana, dalam kontrak harusnya terpasang baterei merk Best Solution Batery (BSB). Akibatnya, terdapat kerugian negara hingga miliaran rupiah.

Menariknya lagi, ketika menvonis bersalah Iwo cs, Majelis Hakim telah merumuskan pertimbangannya kalau kasus ini berawal dari adanya pertemuan di Hotel Quality. Dari situ, penyidik Tipikor Kepolisian Daerah Sulawesi Utara kemudian melakukan pengembangan, lalu menetapkan Salindeho dan Mailangkay sebagai tersangka. Berhubung saat akan ditahan, tersangka Mailangkay memilih tidak kooperatif, akhirnya berkas Salindeho yang lebih dulu maju ke meja hijau.

Sekedar diketahui, dalam perkara ini JPU telah mendakwa bersalah Salindeho dengan menggunakan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan UU RI No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI No 31 Tahun 1999, juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHPidana. (Marend)

Leave a Reply