Urban Digifest 2026 Buktikan Kekuatan Ekosistem Ekonomi Kreatif Sulut, BI Dorong UMKM Sulut Naik Kelas

Manado – Urban Digifest 2026 kembali membuktikan diri sebagai salah satu mesin penggerak ekonomi daerah yang paling berdampak di Sulawesi Utara.

Hingga hari keempat pelaksanaan, pesta ekonomi kreatif bertema “Rupa Rasa Kawanua: Meracik Tradisi, Menyeduh Inovasi” ini telah mencatatkan nilai transaksi mencapai Rp3,4 miliar dengan total kunjungan mencapai 42 ribu orang. Angka tersebut dipastikan terus melonjak menjelang puncak acara pada hari penutupan, Minggu (16/8/2026).

Lebih dari sekadar pameran dan hiburan, kegiatan yang digagas Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara ini kini telah berkembang menjadi ekosistem pengembangan ekonomi daerah yang nyata — mempertemukan UMKM, pelaku ekonomi kreatif, sektor perbankan, pemerintah, komunitas, hingga masyarakat dalam satu platform yang saling menguatkan.

Memasuki tahun kedelapan penyelenggaraannya, Urban Digifest kini bukan lagi sekadar agenda tahunan. Kegiatan ini telah bertransformasi menjadi ruang kolaborasi yang mendorong perluasan akses pasar, digitalisasi transaksi, akses pembiayaan, peningkatan kapasitas usaha, sekaligus pelestarian budaya dan komoditas unggulan daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, menegaskan bahwa kesuksesan acara ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil proses panjang yang dirancang secara sistematis.

“Perjalanan Urban Digifest kini telah memasuki tahun kedelapan. Perjalanan ini menunjukkan bagaimana sebuah kegiatan yang awalnya agenda tahunan dapat berkembang menjadi ruang kolaborasi berbagai pihak dalam mendorong penguatan ekonomi daerah. Urban Digifest dibangun dengan tiga semangat utama: ruang refleksi, apresiasi terhadap budaya dan tradisi, serta perayaan sinergi untuk ekonomi negeri,” ujar Joko dalam sambutan penutupan, Sabtu (15/8).

Jelang pelaksanaannya, berbagai program persiapan telah digulirkan jauh sebelum acara dibuka. Di antaranya adalah program PATUA WANUA angkatan keenam — inkubasi untuk mendorong UMKM naik kelas — serta program Onboarding UMKM Go Digital yang berlangsung selama empat bulan, sejak Mei hingga Agustus 2026, guna mempersiapkan pelaku usaha memasuki pasar digital dan mengadopsi pembayaran digital.

Upaya memperluas pasar juga dilakukan melalui partisipasi dalam berbagai pameran tingkat provinsi, nasional, hingga internasional — mulai dari Bali Beyond Travel Fair, TIFF, Manado Expo, Pameran Paskah, hingga SIAL Shanghai. Seluruh rangkaian tersebut bermuara pada Urban Digifest 2026 yang menghadirkan 233 UMKM terbagi dalam berbagai kategori: 127 makanan dan minuman kemasan, 50 wastra-kerajinan-kriya, 28 kopi, 20 ready-to-eat, 3 pangan, serta 5 UMKM pendukung desa wisata.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi, percepatan digitalisasi menjadi salah satu strategi utama untuk memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi daerah. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky Perdana Gozali, memberikan apresiasi atas terselenggaranya Urban Digifest 2026 dan menyoroti kemajuan digitalisasi di Sulawesi Utara.

“Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, perkembangan ekonomi digital menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi baru di daerah. Digitalisasi diharapkan tidak hanya memberikan kemudahan dalam transaksi, tetapi juga membantu UMKM membangun ekosistem usaha yang lebih formal, efisien, dan terhubung dengan pasar yang lebih luas,” tegas Ricky.

Ia mencatat pencapaian luar biasa adopsi pembayaran digital di Sulawesi Utara: “Di Sulut sendiri pengguna QRIS telah mencapai lebih dari 500 ribu pengguna, tumbuh sekitar 18 persen secara tahunan, sementara volume transaksi telah mencapai 36,34 juta transaksi. Ini adalah capaian yang baik.”

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menempatkan sektor UMKM dan ekonomi kreatif sebagai salah satu pilar utama pembangunan ekonomi daerah. Gubernur Sulut yang diwakili Kepala Biro Perekonomian, Reza Alexandro Wenas Dotulung, menegaskan bahwa tantangan ke depan bukan hanya soal pertumbuhan, melainkan pertumbuhan yang berkualitas dan merata.

“UMKM dan ekonomi kreatif menjadi salah satu sektor penting karena memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat dan memiliki potensi besar untuk menciptakan lapangan kerja serta nilai tambah. Pemerintah daerah terus mendorong agar pertumbuhan UMKM tidak hanya terlihat dari sisi kuantitas, tetapi juga diikuti peningkatan kualitas dan kapasitas usaha,” ungkapnya.

Keberhasilan Urban Digifest tidak diukur semata dari angka transaksi dan jumlah pengunjung. Yang lebih penting adalah dampak jangka panjangnya. UMKM potensial yang telah mengikuti berbagai program pendampingan akan terus dibina menuju Road to Karya Kreatif Indonesia (KKI), acara unggulan Bank Indonesia secara nasional yang mempertemukan UMKM unggulan dari seluruh daerah.

Sinergi yang melibatkan Bank Indonesia, Pemprov Sulut, pemerintah kabupaten/kota, Dekranasda, perbankan, dunia usaha, komunitas, akademisi, dan media menjadi kunci utama keberhasilan ini.

Sebagaimana ditegaskan Joko Supratikto, transformasi ekonomi tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Ketika berbagai agenda dihimpun dalam satu kolaborasi, dampaknya bergerak jauh melampaui sekadar sebuah kegiatan — ia melahirkan ekonomi yang lebih tangguh, inklusif, dan berakar pada kekuatan budaya serta inovasi daerah.

Tinggalkan Balasan

News Feed