Tondano – Euforia Pemecahan Rekor Dunia Senam Poco-Poco juga turut dirasakan para penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Tondano pada Minggu (05/08/2018).
Sebanyak 311 napi dan warga binaan dengan semangat mempertontonkan senam Poco-Poco yang dimulai pada pukul 07.00 Wita. Senam ini berdurasi sekitar 10 menit.
Dengan seragam berwarna biru untuk para Napi dan orange untuk warga binaan, ada juga sejumlah napi yang berpakaian adat khas Minahasa yang berdiri di depan barisan yang bertindak sebagai para mentor.
Terlihat para penghuni lapas ini begitu semangat memeragakan Senam Poco-Poco yang dipandu oleh para instruktur yang tak lain adalah para pegawai di Lapas Tondano ini. Mereka juga dipandu oleh siaran RRI dari Jakarta.
Seusai melaksanakan pemecahan Rekor Dunia ini, para napi, warga binaan, para pegawai serta Kepala Lapas sendiri yakni Teguh Imanto langsung bersorak sorak gembira karena akhirnya telah selesai dalam pemecahan rekor dunia ini.
Imanto menjelaskan tarian poco-poco ini dilakukan oleh 65 ribu peserta. Selain memecahkan rekor dengan jumlah penari poco-poco terbanyak dunia, senam ini merupakan pemecahan rekor MURI sebagai peserta poco-poco dengan narapidana terbanyak.
“Keikutsertaan kali ini tidak hanya sebagai bagian dari pemecahan rekor dunia, tapi kami juga memecahkan rekor MURI sebagai peserta senam poco-poco Narapidana terbanya. Selain itu untuk menyambut ASIAN GAMES,” ungkap Imanto.
Imanto menegaskan senam poco-poco ini merupakan salah satu bentuk pembinaan kepribadian narapidana sehingga diharapkan dapat sehat mental dan jasmani.
“Senam ini merupakan bagian dari pembinaan kepribadian bagi narapidana di bidang kesehatan jasmani. Selain mempersiapkan sisi kemandirian, narapidana harus sehat mental dan jasmani sehingga mereduksi peluang untuk mengulangi perbuatannya,” katanya.
Acara yang digagas oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) ini akan melibatkan seluruh lapisan masyarakat sehingga dapat menjadi sarana pemersatu bangsa dan menanam nilai nasionalisme bagi narapidana.
“Acara ini dapat menjadi sarana perekat dan pemersatu bangsa serta mampu menanamkan nilai nasionalisme bagi seluruh narapidana sehingga semakin cinta tanah air,” lanjutnya.
Imanto menjelaskan hanya butuh waktu dua minggu untuk melatih para napi dan warga binaan ini.
“Pertama kami latih 30 orang napi untuk menjadi mentor dan kemudian merekalah yang melatih para napi dan warga binaan di setiap blok,” pungkas Kalapas yang terlihat dekat dengan para penghuni Lapas Tondano ini.(mar)




















