PERINGATAN AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember kemarin, merupakan peringatan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.
Kepedulian terhadap penderita virus mematikan dan belum ada obatnya itu, turut menjadi perhatian dari Alvin Titirlolobi, MPd yang merupakan dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Manado (Unima) di Tondano, Kabupaten Minahasa.
“Memperingati akan hari AIDS tentunya sebagai kaum muda penerus bangsa, saya secara pribadi peduli dengan perayaan ini tentang kesadaran setiap manusia terhadap pola hidup sehat dengan tidak melakukan sex bebas,” katanya kepada cybersulutnews.co.id.
Pria kelahiran Luwuk Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) menambahkan, kiranya pemerintah dapat memperhatikan terutama dalam melakukan berbagai langkah preventif dalam mencegah merebaknya kasus HIV-AIDS, sehingga penderitanya di Indonesia dan khususnya Sulut dapat ditekan.
“Tentunya harus diadakan sosialisasi atau penyuluhan secara terus menerus kepada masyarakat khususnya kaum muda tentang HIV-AIDS,” ujarnya.
Lanjutnya, peringatan hari AIDS, pertama kali digagas pada pertemuan Menteri Kesehatan Sedunia mengenai program-program untuk pencegahan AIDS pada tahun 1988. Sejak saat itu, ia mulai diperingati oleh pihak pemerintah, organisasi internasional dan yayasan amal di seluruh dunia.
“Hari AIDS Sedunia pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, sehingga kita juga harus maknai peringatan itu sebagai kepedulian kita bersama terhadap HIV-AIDS,” tutupnya.(Ficky Koloay)




















