Manado – Konflik antara mahasiswa asal Papua dan warga di Tataaran, kecamatan Tondano Selatan Kabupaten Minahasa menjadi keprihatinan warga lainnya.
Apalagi penyebaran foto jasad dari Petius Tabone, mahasiswa Papua yang tewas mengenaskan dengan luka bacokan serta sayatan-sayatan tak berprikemanusiaan yang selang beberapa hari ini menyebar dari berbagai jejaring sosial atau sosial media.
“Polisi lewat bagian ITE Polda Sulut harus menghentikan penyebaran foto jasad mahasiswa Papua yang tewas itu. Karena selain tak manusiawi juga hanya menjadi tontonan yang bisa memicu reaksi keras dari keluarga, sahabat dan rekan-rekan korban,” kata Ai’ Firman Mustika SH Direktur Eksekutif Lembaga Sulut Institute kepada Cybersulutnews.co.id.
Dikatakan Wakil Sekretaris Lembaga Bantuan Hukum PW Nahdatul Ulama Sulawesi Utara ini, pihak kepolisian yang dibantu aparat TNI untuk terus menjaga keamanan terutama dilokasi kejadian hingga benar-benar kondusif.
“Harus bisa diusut tuntas semua pelaku dalam masalah di Tataaran itu. Warga Papua, yakni mahasiswa juga bisa sabar serta menyerahkan kepada proses hukum. Biarlah pihak kepolisian yang akan menyelesaikan dengan menyeret para tersangka terlibat dalam pembunuhan maupun pengrusakan serta hal lainnya dalam kasus yang terjadi di Tataaran,” jelas Pengacara ini.
Sebelumnya Kapolda Sulut Brigjen Pol Jimmy Palmel Sinaga melalui Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulut, AKBP Wilson Damanik, mengatakan pihaknya akan mengusut tuntas kejadian di Tataaran itu.
“Kami sudah menurunkan tim untuk mencari tersangka pembunuhan mahasiswa asal Papua, serta mencari mahasiswa Papua yang diduga pertama membuat onar di Tataaran hingga memancing amarah dari masyarakat,” kata Damanik ketika dikonfirmasi sejumlah wartawan, Senin (20/10) di ruang kerjanya.
Sementara dari informasi yang diterima Cybersulutnews.co.id, sekitar pukul 13.00 WITA, situasi di Kelurahan Tataaran sempat tegang. Sebab ratusan warga nampak berjaga-jaga di sepanjang jalan dengan memegang berbagai jenis senjata tajam. Melihat situasi tersebut, ratusan anggota polisi dan TNI yang melakukan pengamanan di lokasi langsung mengamankan warga yang terlihat emosi.
“Kata beberapa masyarakat, mereka turun ke jalan karena mendengar adanya isu yang beredar bahwa mahasiswa asal Papua akan balas dendam. Tapi kami sudah menenangkan warga sekitar, sekarang mereka sudah kembali ke rumah masing-masing,” tutur salah satu petugas kepada Cybersulutnews.co.id. (jenglen manolong)



















