BI Gelar Seminar Berdayakan Ekonomi Umat Katolik di Manado

Tak Berkategori

Manado- Bank Indonesia (BI) menggelar seminar pemberdayaan ekonomi dan kredit UMKM kepada Umat Katolik Keuskupan Manado.

Kepala BI Perwakilan Sulut, Suhaedi mengatakan program ini merupakan financial inclusion BI yang melibatkan lembaga keagamaan.

“Program ini merupakan yang ketiga yakni Jemaat GMIM dan Jemaat Muslim di Manado sudah digelar beberapa waktu lalu,” kata Suhaedi.

Keuskupan Manado, katanya memegang peranan penting dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Katanya, masih cukup banyak masyarakat Sulut yang belum menikmati layanan perbankan.

“Sehingga program edukasi masyarakat untuk bisa mengakses bank terus kami lakukan, agar bisa merencanakan keuangan dengan baik dimasa yang akan datang,” jelasnya dalam Seminar pemberdayaan ekonomi dan kredit UMKM melalui lembaga keagamaan umat Katolik Keuskupan Manado, Senin (29/4).

Uskup Katolik Manado, Joseph Suatan mengatakan perkembangan gereja Katolik Keuskupan Manado tidak lepas dari perekonomian masyarakat yang semakin baik.

“Menjadi tantangan dan peluang Keuskupan Manado bekerjasama dengan pemerintah dan perbankan untuk memberdayakan ekonomi umat,” katanya.

Menjadi cita-cita Keuskupan Manado, katanya untuk menjadi suatu persekutuan yang mandiri, misioner sehingga terjadi kesejahteraan bersama serta kominikatif.

Program mengelolah aset dan keuangan secara profesional juga sangat ditekankan sehingga masyarakat dan umat diharapkan dapat memberdayakan diri dan ekonomi.

Lanjut ia jelaskan, Keuskupan Manado akan memberika Jaminan 15 persen kepada umat yang ingin meminjam di bank.

“Diharapkan peluang ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh umat dan diminta sungguh-sungguh memanfaatkan peluang ini dengan penuh rasa bertanggungjawab demi peningkatan kesejahteraan bersama,” jelasnya.

Wakil Gubernur Sulut, Djaohari Kansil melalui Kepala Biro Perekonomian, Adry Manengkey mengatakan

Perbankan harus benar-benar mampu dan mengerti kondisi masyarakat sehingga dalam pemberian kredit bisa terarah.

“Perbankan di daerah harus membangun kredit culture,” katanya.

Katanya, perbankan juga sebagai agen pembangunan.

“Bank tidak semata-mata mencari keuntungan tapi juga meningkatkan taraf hidup masyarakat,” katanya.

Maka, katanya eksistensi dunia perbankan sangat penting.

Dia berharap para peserta seminar yang hampir 400 orang bisa memanfaatkan kegiatan ini dengan baik sehingga bisa memberikan nilai lebih bagi umat dan masyarakat Sulut pada umumnya.

 

Tinggalkan Balasan