Manado – Hari ini, Rabu (24/08/2022) Asisten 3 Sekdaprov Sulut, Asiano Gammy Kawatu berulang tahun ke-60.
Momen sukacita ini menandai pamong senior memasuki garis akhir pengabdian setelah 35 tahun lebih meniti karir sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Tinggal menghitung hari untuk pensiun, putra ketiga dari tujuh bersaudara pasangan birokrat mendiang Ernst Paulus Kawatu dan Syntyiche Eva Watung pamitan kepada wartawan sebagai mitra kerjanya selama ini.
Di ruang kerjanya, Selasa (23/08/2022) kemarin, Pria kelahir 24 Agustus 1962 di desa Rumoong Atas Kecamatan Tareran mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada wartawan yang telah menjadi mitra kerja strategis dalam ia meniti karir birokrat.
“Dari lubuk hati yang paling dalam saya ucapkan terimakasih, mohon maaf juga bila ada kesalahan, kekurangan, kekhilafan selama ini,” ujarnya.
Pria yang juga akan segera melepas jabatan Asisten 3 ini pun meminta wartawan untuk mendukung suksesornya.
“Kalian saya harap mendukung pengganti saya, juga mendukung penjabat Sekprov sekarang ini dan calon Dekda definitif yang tengah diseleksi,” pinta mantan penjabat Sekdaprov Sulut ini.
Sebelumnya dalam kesempatan menutup kegiatan PKA pekan lalu, ia sempat memberi wejangan kepada kolega, juniornya di pemerintahan provinsi Sulut.
Kepada para ASN Ia memberikan 3 pesan penting. Pertama agar dalam berkarir sebagai birokrat untuk selalu iklas. “Roda berputar, kadang kita berada di posisi yang kita inginkan, tetapi kadang kita berada pada posisi yang tidak kita inginkan, karena itu tulus dan ikhlas dalam melaksanakan amanah, tugas dana kepercayaan pimpinan menjadi penting,” nasehatnya.
Kedua, ia meminta kolega sekaligus para yuniornya untuk selalu meningkatkan kompetensi. “Di dunia yang penuh kompetisi saat ini, maka peningkatan kompetensi menjadi sangat penting agar tidak terlindas,” sebutnya.
Dan ketiga, ia membagi nilai yang harus dimiliki yaitu kejujuran. “Kualitas diri itu penting tapi yang utama adalah nilai kejujuran,” imbuhnya.
Mantan Penjabat Bupati Minahasa Selatan tahun 2005 ini dikenal sebagai birokrat pintar yang memiliki dedikasi dan disiplin tinggi.
Suami tercinta Dra Paula Mantiri(kakak Prof. Dr. Ir. Desy Mantiri DEA) meniti karir birokrasi ASN sejak tamat kuliah di Fakultas Ekonomi Unsrat.
Ia masuk PNS bukan lewat seleksi CPNS tapi lewat mekanisme mengganti pegawai yang pensiun. Tahun 1987 ia mengikuti Diklat Pra Jabatan dan meraih ranking 1 dari ratusan peserta.
Tahun 1989 telah menduduki jabatan Kasub dan Tahun 1990 menjadi Kepala Bagian Tata Usaha Pimpinan di usia yang masih sangat muda belum 30 tahun.
Ayah dari Pauliba Grasiela Maria Kawatu(kini, berkarir di Spanyol setelah tamat di universitas Compultense Madrid) dan Paulo Grasiano Izack Kawatu(alumni S2 Unsrat) ini, telah mengikuti Diklat ADUM (setara dengan Diklatpim Tingkat IV), Diklat SPAMA (setara dengan Diklatpim Tingkat III) , Diklat SPAMEN (setara dengan Diklatpim Tingkat II) dan Diklat Pim 1.
Sepanjang karirnya, pria yang lahir bertepatan dengan perhelatan pesta olahraga terbesar di benua Asia, Asian Games, di Jakarta tahun 1962 ini, telah berkarir di birokrasi Pemprov Sulut dengan 9 gubernur dan tak kurang dari 8 Sekprov.
Sejumlah jabatan penting di Pemprov Sulut telah diembannya, yakni, Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Sulut, Kepala Dinas Perindag Sulut, Kepala Dinas Pendapatan Daerah Sulut, Asisten 3 Sekprov, Asisten 2 Sekprov, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulut, Kepala Dinas Pendidikan Daerah Sulut, Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah Sulut dan kembali sebagai Asisten 3 Sekprov Sulut.
Ia juga sempat mengecap jabatan puncak birokrat Sulut yakni sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Sulut.
Di setiap SKPD yang ia pimpin, selalu menjadi panutan dan teladan anak buahnya karena memiliki integritas, akseptabilitas dan disiplin yang tinggi.
Tak heran ia selalu dihormati dan disayang anak buahnya.
Pria yang selalu merawat keluarga ini juga disegani oleh para senior birokrat terutama yang sudah purna bakti.
Dengan mitra kerja wartawan, ia juga dikenal lugas dan bersahabat. Selalu memberi waktu untuk diwawancarai wartawan.
Meski banyak belajar dan terdidik di masa Sekprov Dotulong, Arsjad Daud SH; ia telah meraih berbagai jabatan dan pendidikan di dalam dan luar negeri, Inggris dan Asia Tenggara.
Bahkan di masa Sekprov Arsyad Daud SH.(ayah kandung pejabat tinggi di Kemendagri, Dr. F.A. Daud), ia pernah menjadi Wakil Sekretaris MIPI dan ikut menyelenggarakan seminar nasional bersama LAN serta menghasilkan buku “Pemerintah Daerah di Era Globalisasi”.
Sebuah seminar dan buku yang mengantisipasi perubahan fungsi dan peran pemerintahan daerah setelah Ted Gaebler dan kawan-kawan menelorkan paradigma baru ilmu pemerintahan yang dikenal sebagai “Reinventing government” (swastanisasi birokrasi). Atau, perubahan orientasi pemerintahan manapun di era globalisasi.
Berbagai jabatan dan pengalaman yang dijalaninya telah menempatkan dirinya sebagai salah satu pamong terbaik yang pernah dimiliki Pemprov Sulut.
Selamat hari jadi pak Asiano Gammy Kawatu. Sehat dan sukses selalu.





















