Minahasa – Bupati Minahasa Periode 2013-2018, Drs Jantje Wowiling Sajow MSi menyebut, dalam berpolitik harus kuat mental dan tahan uji, serta sikap politik yang jelas. Kata JWS, dirinya berkecimpung di dunia politik sudah sejak tahun 1982 silam, sehingga politik bukan lagi barang baru baginya.
“Masih Mahasiswa so aktif di GOLKAR dan ormasnya Golkar AMPI. Taon 1992 so jadi anggota DPRD Minahasa dari Golkar sampe 2003. Pas SVR jadi Bupati 2003 JWS mundur bale jadi PNS. 2003 juni Stevanus Vreeke Runtu (SVR) lantik JWS jadi Wakil Kepala Dinas ( Wakadis) Diknas Minahasa, Agustus 2003 dilantik jadi Kepala Dinas (Kadis) Diknas sampai dengan Desember 2007.Maret 2008 jadi Wakil Bupati (Wabup) baku pasang deng SVR. SVR – JWS kalahkan Royke Octavian Roring (ROR) – Steven O Kandouw (SOK). Taon 12 -12-2012, ta pilih jadi Bupati JWS – Ivan Sarundajang (IVANSA) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) periode 2013-2018. Terakhir jadi Calon Legislatif (Caleg) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dari PDIP, biar nda jadi mar terhibur dengan dana sadiki boleh dapa suara 70 an ribu. Amper jadi tare, kurang sadiki mar Tuhan nda ijinkan ke senayan,” demikian ujar JWS dikutip dalam dialeg Manado, melalui pesan Whatsapp kepada sejumlah media.
Menurut JWS dalam dunia politik dirinya tidak asing dengan tantangan, pergumulan maupun kesenangan.
“Samua tau perjalanan politik JWS. Banyak senangnya tapi jugavbanyak tantangan dan pergumulannya (suda jo cirita. Itu yang menarik di politik. Kalau orang senang deng ada dorang pe perlu, dorang puji abis-abisan. Mar kalau nda senang deng so nda perlu, dengan segala cara dorang beking supaya ‘abu’. Bahkan dulu pernah terjadi peristiwa pembakaran mobil milik JWS, DB 20 JS pada tahun 2004, ban belakang kiri habis terbakar tetapi tidak meledak. Tuhan masih sayang,” kata JWS sembari tertawa.
Sang Politikus ini menjelaskan mau masuk ranah politik harus benar-benar tahan uji namun harus memiliki sikap politik yang jelas. “Tapi itu noh, ternyata politik adalah seni, musti kuat mental.Tidak usah marah kalau dibuang, tidak usah bangga dulu kalau dapa tampa bagus, jalani jo biasa yang penting punya sikap politik yang jelas,” lanjutnya.
“Sama deng sekarang, setelah jadi Wakil ketua Partai Golkar, JWS pe sikap harus membela partai Golkar. Kalau bicara partai berarti ada orangnya,” katanya lagi.
Disinggung soal dirinya yang dituding membela mati-matian James Arthur Kojongian (JAK). JWS menekankan bahwa dirinya tidak membela JAK yang sempat mencoreng partai karena kasus kekerasan terhadap istrinya dan beredar luas di dunia maya.
“Kalau JWS bela JAK bukan soal JAK nya tetapi soal Golkar, yah kalau JAK so dapa brenti deng SK Mendagri selesai !, nda bela so klar, dia pe soal sampe sekarang belum di berhentikan. Malah so menyerempet bilang singgung Gubernur. Eh soal JAK, soal BK, Soal Pimpinan DPRD dan soal Surat Mendagri bukan soal Gubernur. Dan kalau JWS maso struktur partai Golkar itu keputusan partai,” tandasnya.
“Kesimpulannya, kalau jadi politisi harus berani mengkritik tetapi siap di kritik, harus berani berdebat membela kepentingan rakyat atau partai yang penting alasanya jelas, tidak penting kursi banyak atau sedikit yang penting berani suarakan jangan diam.Apa artinya jadi politisi yang penting diri sendiri aman ‘ main save’, takut mengkritik, takut di kritik. Rakyat dapat apa? Partai dapat apa?. Itulah seni berpolitik, tapi harus ingat jangan mengkritik masuk area pribadi atau singgung pribadi orang,” pungkasnya.(***)




















