Manado – Keteduhan ombak dipadu angin sepoi-sepoi, menambah kenikmatan saat duduk di bibir Pantai Malalayang. Wisata murah meriah yang kebanyakan dinikmati masyarakat menengah ke bawah.
Hanya dengan duduk di warung-warung kecil yang menyediakan makanan yang umumnya menjual kuliner seperti pisang goreng, tahu isi dan jagung rebus, pengunjung sudah bisa melihat keindahan alam dengan view Pulau Manado Tua.
Anak-kecil kecil tertawa riang saat berenang di pantai yang masih dikelilingi batu alam.
Sungguh pemandangan yang jarang bisa ditemui di beberapa kilo, di pusat Kota Manado yang kini tepian pantainya sudah “dijajah” proyek reklamasi pembangunan sejumlah kawasan mall besar.
Asyik menikmati keteduhan suasana pantai Malalayang, Minggu 9 November 2014 pada sore hari pukul 15.00 wita, seorang pengamen bermodalkan gitar dan harmonika mendendangkan lagu yang cukup “nyeleneh” didengar pengunjung.
Pasalnya pengamen itu selain bernyanyi lagu bertema cinta, juga membawakan lagu-lagu kritik sosial ala Iwan Fals serta lagu-lagu mengenai lingkungan milik Ebiet G Ade.
“Kami keluarga sering ke pantai Malalayang. Selain murah, pemandangannya bagus, masih alami dan mudah dijangkau,” kata Simon warga Karombasan yang datang bersama keluarga.
Marta pemilik kios mengatakan tempatnya akan sangat ramai pada hari Minggu dan hari-hari libur lainnya.
“Pendapatan saya juga bertambah. Selama Pantai Malalayang ini tak tersentuh reklamasi, kami bisa mencari hidup di sini,” katanya sembari berharap pemerintah terus melestarikan bibir Pantai Malalayang agar tak tersentuh proyek reklamasi. (Maria)




















