Minahasa – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten, Kamis (05/10) pagi, menggelar Rapat Koordinasi Pengembangan Pariwisata, bertempat di ruang sidang Kantor Bupati, Tondano.
Rapat ini dibuka Penjabat Bupati Minahasa Dr Jemmy Stani Kumendong MSi, melalui Sekretaris Daerah Minahasa Dr Lynda D Watania MM MSi, didampingi Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Sekdakab Minahasa, Drs Riviva Maringka MSi, dan dihadiri Organisasi Perangkat Daerah terkait.
Maringka sebagai penanggung jawab kegiatan dalam sambutannya mengakui bahwa, banyak potensi pariwisata di Minahasa belum menjual, bahkan belum terkelola dengan baik karena berbagai hal yang melatar belakangi.
Untuk itu, menurutnya, Pemkab Minahasa melalui rapat koordinasi ini akan merumuskan apa yang harus diimplementasikan untuk kemajuan pariwisata di Minahasa yang mampu menjual dan dikenal dunia luar, sehingga mampu mendatangkan wisatawan yang nantinya bisa berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
Kata dia, pariwisata di Minahasa untuk sekarang ini masih mengolah atau memformulasikan konsep. Padahal, seharusnya sudah bukan lagi dalam tahapan konsep, melainkan harus implementasi.
“Jadi kalau bicara soal pariwisata, kita sudah harus di ranah implementasi sebetulnya. Harus berbuat, tapi apa yang harus dibuat harus jelas, itu yang harus kita implementasikan. Memang, konsep punya plus dan mines, disini bagus tapi belum tentu di tempat lain. Nah, kalau masih bergelut lagi dalam konsep tapi tidak ada tindakan, maka itu tidak akan menampakkan hasil apapun,” kata Maringka.
Dia pun mendorong Dinas Pariwisata agar mampu berinovasi dan mampu mengimplementasikan konsep yang selama ini ada, dengan mengembangkan semua potensi pariwisata yang ada.
“Apa yang menjadi parameter untuk berbuat? Pertama, kehendak untuk berbuat, ini tentu dibarengi kebijakan pemerintah, kalau tidak ada ini maka itu hanya teori omong kosong. Kita punya banyak potensi, tapi belum maksimal dikelolah, jadi kelola itu. Jangan hanya angan-angan, harus dikerjakan,” tandasnya.
“Seperti contoh, ada Goa Jepang di Tonsealama Kecamatan Tondano Utara, yang punya sejarah atau histori yang panjang, tapi belum di olah dengan maksimal. Dinas Pariwisata harus berupaya membuat kerjasama dengan pihak Jepang agar potensi wisata ini bisa dikembangkan,” ujarnya.
Selanjutnya kata Maringka, harus berinovasi serta kemampuan enterprenuer. Sebab, hingga saat ini pariwisata di Minahasa masih bersifat sosial, alias masih memberikan layanan gratis masuk area wisata, berbeda dengan daerah lain yang pariwisatanya telah maju dan berkembang.
“Kedua, inovasi. Mampu mengembangkan potensi. Dann ketiga, memiliki enterpreneur. Percuma ada kehendak tapi tidak menjual. Selain itu, jangan hanya berfungsi sosial atau masuk destinasi tidak berbayar, tapi harus sampai ke tingkat enterprenuer, atau menghasilkan sesuatu. SDM harus ada jiwa entrepreneur, harus juga menghasilkan bagi daerah. Mari rubah stigma lama. Mudah mudahan ada handicraft yang menjadi ikon yang akan kita perkenalkan di HUT Minahasa, ini menjadi momentum kebangkitan pariwisata di Minahasa,” pungkasnya.
Nampak hadir juga sebagai narasumber dalam rapat ini, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Minahasa, Djefry Sumendap Sajow SH dan Kepala Dinas Pariwisata Dolfie Kuron, serta Kabag Kesra Dr Geovany Rorora DTh.(fernando lumanauw)




















