by

Puluhan Pengusaha Sarang Burung Walet di Minahasa Tak Pernah Bayar Pajak

Minahasa – Di Kabupaten Minahasa terdapat puluhan sarang burung walet yang diproyeksi bisa menghasilkan pemasukan bagi daerah melalui sektor pajak.

Namun sayang, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor ini justru mengecewakan. Pasalnya, dari 53 sarang burung walet yang terdaftar memiliki ijin usaha, hanya enam diantaranya yang membayar pajak.

Alhasil, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Minahasa melalui Komisi III menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP), Selasa (16/11) sore, untuk mencari tau apa penyebabnya.

“Bayangkan, dari 53 usaha burung walet, hanya enam yang menyetor pajak ke daerah. Total pajak yang disetor selama setahun hanya Rp 21 juta saja. Sarang burung walet ini, ada yang sudah beroperasi sekira 15 tahun dan tidak ada kontribusi sama sekali,” ungkap Ketua Komisi III Dharma Palar, didampingi anggota DPRD James Rawung, Imanuel Manus, Natalia Rompas, Lucia Taroreh dan Debora Sumolang.

Menurut Dharma, dalam RDP disolusikan pada 2022 mendatang, agar potensi-potensi pajak ini digali kembali supaya lebih maksimal. “Jangan pihak dinas terkait tidak melakukan jemput bola. Seperti yang disampaikan pengusaha burung walet. Tidak ada pihak dinas yang datang menagih,” tuturnya.

Dalam RDP ini, para legislatif sempat naik pitam dikarenakan tak ada satupun Camat hadir dalam undangan. Anggota DPRD Imanuel Manus pun meminta untuk kinerja Camat dievaluasi. “Ini kiranya menjadi catatan bapak Bupati untuk mengevaluasi para Camat. Kami sudah menunggu lama, tak ada yang datang. Padahal ini penting, karena Camat paling tau daerahnya apakah ada usaha burung walet atau tidak,” tegas Manus.(fernando lumanauw)

Comment

Leave a Reply

News Feed