Bitung- Disaat pemerintahan Presiden Jokowi dan wapres Jusuf Kalla mendengungkan program pendidikan gratis bagi masyarakat, khususnya yang ekonomi lemah, justru yang terjadi di salah satu sekolah yang ada di Bitung, yakni SD Negeri Inpres, Kelurahan Tanjung Merah, Kacamatan Matuari, melakukan hal yang sebaliknya.
Buku pelajaran yang merupakan kurikulum 13 (K13), yang seharusnya gratis diterima oleh para siswa, karena dananya sudah tercover oleh dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), justru diperjual belikan oleh pihak sekolah kepada para siswa. Harga setiap buku berfariasi, dari 30 ribu hingga 40 ribu rupiah.
“Buku itu disesuaikan dengan tema. Setiap tema biasanya hanya dipakai 1 bulan. Selanjutnya harus diganti dengan buku dengan tema yang baru. Setiap akan diganti, maka kami harus membayar,” kata sejumlah orang tua siswa yang meminta identitas mereka disimpan.
Ditambahkan para orang tua, jika buku tersebut tidak dibayar, maka anak-anak mereka tidak bia belajar.
“Kami hanya ingin pihak sekolah untuk transparan dengan hal ini dan dijelaskan kenapa harus membayar,” tambah mereka.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bitung, Ferdinan Tangkudung, SIP MSi yang dikonfirmasi mengatakan, untuk buku pelajaran sesuai tema, tidak dipungut biaya alias gratis. “Buku tema itu semua gratis diberikan kepada siswa,” kata Tangkudung.
Sementara itu, kepala SD Inpres Tanjung Merah, Rode Kondoy saat ditemui awalnya membantah hal tersebut.
Namun ketika disampaikan bahwa ini merupakan keluhan orang tua, Kondoy mengaku itu dilakukan oleh oknum-oknum guru, dikarenakan fasilitas di sekolah kurang memadai.
“Itu guru-guru yang minta dan saya tidak tahu. Tapi memang fasilitas disekolah kami khususnya untuk foto copy masih sangat minim,” kata Kondoy. (hezky)




















