
Inflasi dalam Wikipedia diartikan, adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang.
Kepala Biro Perekonomian Provinsi Sulut, Jane J.M.B. Mendur, SE saat di temui di ruangannya mengatakan kepada Cybersulutnews.co.id untuk pentingnya koordinasi dalam hal ini ketika ada gejolak karena inflasi.
“Tetap berkoordinasi dari provinsi dengan kabupaten kota dan instansi terkait terutama juga dengan pihak BI. Jadi untuk menekan inflasi antara lain kami memantau kelancaran arus barang apa bila arus barang lancar akan terjadi penekanan terhadap inflasi,” jelasnya.
Lanjutnya, arus barang yang dimaksud dari produsen ke konsumen untuk sekarang ini yang memicu inflasi naik antara lain harga cabe rawit yang terus naik.
“Jalan keluarnya dari pemerintah kabupaten dan kota akan mensosialisasikan kepada masyarakat, antara lain yang mungkin perkarangannya masih tersedia tempat untuk di tanami cabe supaya bisa menanam, ini akan mengurangi dan membantu masyarakat itu sendiri tanpa harus membeli,” katanya.
Ditambahkannya, kami juga mengantisipasi adanya mafia cabe, saat ini TPID bersama Polda dan Polres berkoordinasi memantau kelancaran dan gejolak menjelang bulan Desember,” jelasnya lagi.
Diketahui dari pantauan Bank Indonesia awal bulan November harga cabe rawit masih dikisaran pada harga Rp 22 ribu, tapi masuk pertengahan bulan ini sudah menjadi Rp 70 ribu dan saat ini harga Rica telah mencapai Rp112.500 ribu per kilo. (Ficky Koloay)

























