Kematian Siswa SMPN XIV Mapanget Dinilai Ganjal, Keluarga Sesalkan Penanganan Polsek Tomohon Utara

Manado – Kematian siswa SMP Negeri XIV Mapanget, Ailen Pongajow (14), warga Kelurahan Kairagi, Lingkungan Tiga, Kecamatan Mapanget di tempat wisata Air Terjun Teka’an Telu, Desa Tinoor, Kecamatan Tomohon Utara dinilai ganjal. Pasalnya, ketika ditemukan di samping tebing, wajah korban nampak memar. Kepala korban juga didapati luka tusukan.

Pihak keluarga korban menduga kuat korban dibunuh oleh orang dekat. Sayangnya, proses penanganan yang dilakukan aparat kepolisian setempat, rupanya enggan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap pelaku yang menewaskan Siswa Kelas III SMP Negeri XIV Mapanget tersebut.

Kakak korban, Wawan Pongajow, saat bertandang ke Mapolda Sulut, Rabu (16/12/2015) mengungkapkan, upaya penanganan awal kejadian dari pihak kepolisian sudah dilaksanakan dengan baik. Namun menurutnya pasca kejadian tersebut, pihak keluarga mulai mempertanyakan kematian adik kandungnya yang masih misterius. Sebab, dari kejanggalan yang ditemukan, keluarga mencurigai adanya keterlibatan orang lain atau pelaku hingga korban tewas.

“Tindakan awal dari kepolisian kami kira baik. Tapi kami sayangkan polisi langsung memvonis bahwa korban tewas karena kecelakaan. Ada saksi yang dimintai keterangan, namun kami pastikan bahwa keterangan yang diberikan adalah palsu. Sebab kami keluarga turut melakukan investigasi, dan memiliki data dan keterangan kuat dari saksi terkait, bahwa para saksi ini tahu kronologis kejadian hingga adik kami meninggal. Jadi ada dugaan kuat kami kejadian ini seakan sudah terencana oleh orang-orang dekat korban,” ungkap Wawan, didampingi ayah korban, usai berkoordinasi dengan pihak Propam Polda Sulut.

Lebih lanjut Wawan menilai, pengembangan penyelidikan serta keterangan yang diberikan penyidik dalam kasus tersebut dianggap dangkal. Bahkan proses penyelidikan pun terkesan timbul tenggelam.

Diceritakan Wawan, awalnya Senin (7/12/2015), korban keluar rumah dan pamitan pergi bersama rekan-rekannya untuk menikmati keindahan alam di lokasi kejadian. Disini, tenda yang akan ditinggali hendak dibangun. Namun di lokasi tersebut, ternyata sudah ada tenda patent yang tidak dibongkar. Korban bersama 3 rekannya, kemudian bertemu dengan seseorang di lokasi dan berkenalan.

Selanjutnya, korban hendak keluar lokasi untuk membeli mie instan. Nah, orang yang baru dikenali korban meminta untuk mencari bunga terompet. Bunga tersebut dibawa korban. Lelaki bernama R, kemudian meracik bunga tersebut dan mencampuri dalam minuman kopi. Mereka pun meneguk racikan minuman tersebut yang dianggap dapat membuat mabuk. Sekitar pukul 19.00 Wita, korban tertidur bersama seorang rekannya. Tiba-tiba pukul 00.00 Wita, korban tidak berada di tenda alias menghilang.

“Waktu mendengar itu kejadian kami sangat terpukul. kami pun mengira itu memang kecelakaan. Tapi setelah kami selidiki itu rekayasa. Ada kelompok pencinta alam dari anak-anak sekolahan menemukan korban sekitar pukul 09.00 Wita di dekat air di atasnya tebing. Dari investigasi keuarga, kami keluarga menduga dan berkesimpulan, lelaki R mengatur skenario. Sebab kami mendapat pengakuan dari saksi lain, bahwa R mengatakan jangan bilang kalau ada minum bunga terompet yang di bakar. Kondisi mayat saat itu ada luka lebam. Kepala korban ada tusukan dan megeluarkan banyak darah. Dan ada satu perempuan mengaku tahu semua kejadian yang direncanakan hingga adik kami tewas,” katanya.

Ditambahkannya, pihak keluarga sangat menyayangkan upaya yang dilakukan kepolisian setempat untuk mengungkap kematian adiknya. Awalnya keluarga maklumi dengan situasi saat kejadian, karena pihak kepolisian harus melakukan pengamanan Pilkada. Namun hingga kini belum memiliki perkembangan. Tak hanya itu, keterangan yang disampaikan para saksi pun tidak digali lebih jauh.

“Alasan mereka lamban menelusuri kasus ini karena menghadapi Pilkada, dan kedua katanya operasional Polsek kecil. Kami sangat sayangkan pernyataan ini. Bahkan di lokasi kejadian, tidak dipasang police line. Kami juga mencurigai, ada oknum polisi yang seakan menutupi dan mengawasi kasus ini. Sebab kami temukan ada komentar di media sosial FB, hingga ada pernyataan saling menyalahkan. Untuk itu kami harap, pihak Polda dapat memonitor penanganan kasus ini dan kami berharap dapat ditangani dengan baik,” harapnya.(jenglen manolong)

Tinggalkan Balasan