Manado – Sebelum menjadi pelaku pembajak Kapal MT Rehobot, Machmud Manoppo (48), warga Pateten III, Lingkungan II, Kecamatan Maesa Kota Bitung ternyata adalah salah satu pebisnis batu bacan di Kota Bitung.
Dengan hasil menjual batu bacan, Machmud kemudian membiayai semua aksi nekat rekan-rekannya dalam membacak Kapal MT Rehobot yang saat itu melintas di perairan belakang Pulau Lembeh Kota Bitung.
“Saya tergiur dengan godaan-godaan dari teman saya. Mereka ngomong kalau bisnis yang akan mereka lakoni ini uangnya besar. Karena tergiur saya nekat memberikan modal untuk melancarkan aksi ini,” beber Machmud kepada Cybersulutnews.co.id, Rabu (19/08/2015) siang di Mapolda.
Meski menjadi Kordinator Lapangan alias Korlap dalam aksi itu kata Machmud, dirinya tidak ikut serta mengambil bagian dalam melakukan pembajakan kapal bermuatan 1100 ton BBM jenis Solar.
“Saya hanya tunggu di mobil saja. Saya tidak ikut serta. Saya hanya menyediakan dananya saja, hanya itu,” terang Machmud sembari menambahkan uang yang ia sediakan adalah uang hasil menjual batu bacan.
“Karena saya tau akan untung jadi saya berani memberikan modal untuk membiayai mereka,” sambungnya dengan kepala tertunduk.
Ia pun menceritakan, sebelum memberikan modal kepada rekannya Mustafa Aly mereka ternyata sudah lebih dulu bertemu Daniel Wangkanusa warga negara Philipina yang memesan Solar.
“Pemesannya datang ke Bitung dan memesan minyak. Saya pun akhirnya tergiur oleh teman. Saya menyesal dan tidak akan melakukan perbuatan saya ini lagi. Solar itu kita jual dengan harga Rp 3000 per liternya,” ungkapnya.
Seperti dalam pemberitaan Cybersulutnews.co.id sebelumnya, Direktorat Polisi Air (Dit Polair) Polda Sulut, Selasa pekan lalu kembali meringkus tiga orang pelaku pembajakan Kapal MT Rehobot. Ketiga pelaku masing-masing, Mustafa Aly alias Boy alias LA Ade, Machmud Manoppo alias Mud serta Alko Pangkey alias Tole.
Kapolda Sulut, Brigjen Pol Wilmar Marpaung, Rabu (19/08/2015) siang mengatakan, ketiga pelaku pembajakan diringkus anggota Dit Polair Polda Sulut, Selasa (11/08/2015), di tempat persembunyian Desa Nagrak, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.
Ketika digerebek, ketiganya kemudian dibawa ke markas Dit Polair Polda Sulut untuk menjalani pemeriksaan. Terungkap dalam pemeriksaan, perbuatan pembajakan Kapal bermuatan 1100 ton bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar itu direncanakan Mustafa Aly.
“Jadi aktor pembajakan tersebut adalah Mustafa Aly. Dia (Mustafa Aly, red) adalah penghubung ke pembeli dari Philipina. Sedang Machmud Manoppo adalah kordinator lapangan dalam aksi pembajakan. Untuk Alko Pangkey sendiri hanya bekerja sebagai ABK,” terang Kapolda Sulut, Wilmar Marpaung.
Ditambahkan Marpaung, penangkapan tiga pelaku itu berdasarkan pengakuan dari empat rekan yang sudah lebih dulu diamankan Dit Polair yakni, Pither Bara alias Joko, Rusdi Taena alias Udi, La Sae alias Sae serta Yance Soda alias Akang.
“Empat orang ini telah menjalani sidang. Mereka dikenakan undang-ungang sesuai pasal 439 KUHP Jo pasal 55 ayat (1) ke 1e jo pasal 56 KUH Pidana,” ungkap Marpaung.
Dijelaskannya, dalam kasus pembajakan Kapal MT Rehobot, pihaknya masih memburu enam aktor lain yang masih berkeliaran.
“Masih ada enam orang lagi. Meski begitu, identitas para pelaku sudah kita kantongi. Saat ini kita terus memburu para pelakunya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini pelaku yang sudah menjadi DPO itu segera ketangkap,” terangnya.
Seperti informasi yang diperoleh Cybersulutnews.co.id, kejadian pembajakan itu terjadi pada 29 Januari 2015, sekitar jam 23.00 Wita. Kala itu Kapal Rehobot sedang berlayar dengan muatan BBM jenis Solar sebanyak 1100 ton dari Kota Bitung menuju Gosowong Halmahera.
Tepat di posisi perairan belakang pulau Lembeh Kota Bitung, sebuah perahu jenis long boat tanpa nama sandar dilambung kiri kapal. Sebanyak delapan orang laki-laki bertopeng dengan membawa sebila parang kemudian naik ke atas kapal Rehobot kemudian menyandra ABK dan kep Kapal.
Ketika menguasai kapal, para pembajak kemudian membawa kapal menuju Philipina. Sedangkan keesokan malamnya para ABK diturunkan pembajak di laut ZEE dengan menggunakan Life Craf atau sekoci penolong.
Selanjutnya, muatan 1100 ton Solar diserahkan ke Daniel Wangkanusa selaku pemesan. Kapal MT Rehobot itu sendiri kini masih berada di daerah Davao Oriental Philipin Selatan. (jenglen manolong)



















