Meski Telah Ditemukan, Evakuasi Korban Sumur Longsor di Pineleng Masih Terkendala

Minahasa – Meski tubuh korban sudah ditemukan Kamis (14/01) siang, proses evakuasi tubuh Marthen Suatan (38), korban sumur longsor di Desa Pineleng Satu Jaga V Kecamatan Pineleng, masih terkendala.

Awalnya usaha penggalian menggunakan tiga alat berat tersebut sempat menemui titik terang karena tubuh korban sudah sempat terlihat. Namun, karena kondisi kontur tanah yang labil menyebabkan terjadi longsoran yang akhirnya menutup kembali lubang dan sebagian tubuh korban.

“Untuk mengangkat tubuh korban yang lebih dari setengah badan masih tertimbun dinilai cukup beresiko, karena tubuh korban sendiri telah menjadi penyangga untuk beberapa gorong-gorong yang berada diatasnya dan jika dipaksakan, ditakutkan gorong-gorong akan ambruk. Sayangnya, memang akhirnya longsor lagi dan tertutup,” ujar Kepala Seksi Operasi Tim Basarnas Manado, Jefry Mewo, saat berada di lokasi kejadian.

Meski demikian, Mewo menegaskan bila pihaknya tidak akan menyerah pada situasi ini dan akan tetap berusaha memberikan yang terbaik hingga proses evakuasi ini tuntas.

“Kami tidak akan mundur. Kami akan tetap bekerja maksimal agar apa yang menjadi tujuan yakni mengevakuasi tubuh korban dapat terlaksana,” ujar Mewo.

Kendala lain yang dihadapi Tim Basarnas saat melakukan evakuasi yakni turunnya hujan yang cukup deras, sehingga menimbulkan masalah lain yang menghambat proses evakuasi.

“Kondisi cuaca tidak mendukung untuk kami tuntaskan proses evakuasi hari ini. Setelah berdialog dengan keluarga korban, maka diputuskan untuk menunda proses evakuasi hingga cuaca membaik karena kalau hujan terus turun, akan sangat beresiko untuk dilanjutkan,” ujar Mewo.

Kaposek Pineleng, AKP Roly Sahelangi mengatakan, proses evakuasi akan dilanjutkan Jumat bila kondisi cuaca sudah membaik.

“Saya menghimbau masyarakat agar dapat bekerjasama untuk tidak mendekati area gerukan tanah karena saat ini kondisi di area tersebut rawan longsor. Kami sangat mengharapkan perhatian dan kerjasama masyarakat agar tidak menimbulkan korban yang lain lagi,” pinta Sahelangi.

Sementara, Camat Pineleng, Moudy Pangerapan, juga meminta pengertian dari pihak keluarga dan masyarakat setempat, terkait keputusan penundaan evakuasi tersebut.

“Kami meminta kesabaran dari pihak keluarga untuk dapat menunggu. Kami juga mengharapkan kerjasama masyarakat untuk tidak mendekati area galian untuk mencegah hal yang tidak diinginkan,” ungkap Pangerapan.

Terkait hal ini, Johanis Suatan adik korban, menerima keputusan tersebut dengan lapang dada dan bersedia menunda proses evakuasi hingga kondisi memungkinkan.

“Semua keputusan kami serahkan bagi pihak yang lebih mengerti tentang masalah tersebut,” ujar adik korban.(fernando lumanauw)

Tinggalkan Balasan