PASCA Duet Pemimpin Sulut yang baru, Yulius – Victor, tampak jelas kesulitan yang dialami dalam menghadapi situasi dan kondisi (sikon) sosial – politik yang ada terlebih yang terkait internal.
Hal yang wajar karena perlu waktu orientasi sebagai Duet Pemimpin baru. Salah satu konsekwensi sosial – politiknya adalah kurang kuatnya citra politiknya dikarenakan masa transisi.
Namun pasca satu semester pemerinrahan Sulut dibawah Duet Yulius – Victor, nampak belum ada pergerakan kemajuan yang terlihat.
Salah satunya adalah sangat lemahnya Dinas Kominfo Sulut dalam memainkan peran.
Adanya Plh. Kepala Dinas Kominfo yang juga Asisten I Setda Prop. Sulut, Denny Mangala, tidak banyak membantu.
Penyebabnya adalah karena Dinas Kominfo Sulut todak punya strategi yang jelas salam melihat sikon sosial – politik yang berkembang di masa transisi atau awal-awal ketika ‘Sang Pemimpin’ harus dimunculkan.
Ada banyak penyebab seperti :
- Masa transisi perubahan kepemimpinan di Sulut
- Sikon Sosial – Politik dan Sosial – Ekonomi Nasional
- Pengenalan jajaran Sang Pemimpin kepada “Peta Birokeat” Pemprop. Sulut
- Masalah dalam Dinas Kominfo Sulut
- Plh. Kepala Dinas Kominfo yang tidak paham makna “Komunikasi Politik” dalam sikon kekinian perkembangan Sosial – Ekonomi dan Sosial Politik
- Dan lainnya
Dinas Kominfo Sulut pada masa-masa sekarang menjadi OPD strategis dikarenakan Yulius – Victor sebagai ‘Duet Pemimpin’ baru perlu menghadapi masalah Persepsi Publik dan Opini Publik. Untuk itu diperlukan Dinas Kominfo yang kuat dan cerdas.
Sejarah politik dunia pernah mencatat pentingnya menghadapi Persepsi Publik plus Opini Publik dan itu tugas Dinas Kominfo.
Salah catatan peristiwa dunia di masa lalu adalah ketika Jerman Nazi, membentuk Kementerian untuk Propaganda dan Pencerahan Publik Jerman, Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda ditahun awal 1930 sampai pecah Perang Dunia ke 2 dan Joseph Goebbels yang konon orang dekat Adolf Hitler dipercaya menjadi orang nomer 1 di kementrian tersebut.
Dinas Kominfo Sulut sampai saat ini sangat lemah, ini diawali dengan ketidak-jelasan kerjasama media massa sampai berbulan-bulan.
Padahal fakta sosial – politik pergerakan Duet Pemimpin Yulius – Victor butuh topangan berita. Bahkan sampai titik 2 momentum penting tahun 2025, HUT Kemerdekaan RI dan HUT Sulut tidak ada topangan media massa yang memadai.
Dan ini menunjukan Sdr. Plh.Kadis Kominfo Sulut tidak paham sikon sosial -politik yang dihadapi Yulius -Victor butih ‘Komunikasi Politik” via media massa.
Dimasa ini opini publik berdasarkan persepsi publik secara sosial – polittik terus terbentuk.
Langkah Dinas Kominfo Sulut yang tidak jelas semakin terjadi ketika masa-masa belakangan ini terjadi pemberitaan yang aneh, berita terkait Gubernur Yulius jauh lebih banyak dari pada berita Wakil Gubernur (Wagub) Victor.
Bahkan saking minimnya berita tentang Wagub Victor sampai-sampai berita terkait secara tidak langsung dengan Plh. Kadis Kominfo Sulut terkesan lebih banyak (walaupun Plh. Kadis Kominfo Sulut berbicara atas nama Gubernur).
Dinas Kominfo Sulut (dan juga Plh. Kadis Kominfo Sulut) tidak paham menjawab kebutuhan Sang Pemimpin, Yulius – Victor akan “Komunikasi Politik” yang semakin ungenti era kebebasan berpendapat dan kemajuan IT
Dinas Kominfo Sulut terkesan kuat tidak tahu minimal 4 penunjang agar persepsi publik dan opini publik bisa ramah terhadap Citra Yulius – Victor.
- Manajemen Issue dilontarkan ke publik
- Cara Komunikasi dengan publik yang semakin kritis
- Cara penyajian materi komunikasi yang akan sosialisasikan melalui media massa
- Timing
Diluar 4 itu masih ada tentang masalah pemahaman ‘Psikologi Publik’, Perilaku Dalam Sosmed dll dikarenakan dunia Komunikasi Politik terus berkembang seiring dengan kemajuan IT.
Semisal, telah dari beberapa tahun lalu guna menghadapi Persepsi Publik dan Opini Publik, dunia “kehumasan” selain memperkuat via media massa telah erkembang pesat Digital Media Content (DMC)
Melihat perkembangan Dinas Kominfo Sulut beberapa bulan terakhir seperti yang minggu-minggu ini muncul ada dugaan Dinas Kominfo Sulut sudah mengakomodir 2 – 3 media massa sejak beberapa waktu lalu, ada dugaan Dinas Kominfo Sulut secara sembunyi-sembunyi telah “OK” mengakomodir sekitar 60 media massa (issue berjalan 1 minggu terakhir ini) sehingga menimbulkan tanda tanya dari sejumlah pihak termasuk unsur media massa dan terakhir tidak tepatnya plus kurang bijak pernyataan Plh. Kadis Kominfo Sulut dalam menyikapi dinamika publik yang kritis kepada Sdr. Gubernur Yulius (diduga pernyataan diberikan pada 16 Oktober 2025 kemarin) dan lainnya, maka ada baiknya Duet Pemimpin Sulut, Yulius – Victor, mengevaluasi kinerja Dinas Kominfo Sulut termasuk Sdr. Plh. Kadis Kominfo Sulut dikarenakan kinerja sampai kemarin masih “Jauh Panggang Dari Api” bahkan dapat dikatakan “Komunikasi Politik” yang disajikan untuk kepentingan Duet Pemimpin Sulut, Yulius – Victor, bukan ‘menu matang” sesuai kebutuhan publik tapi “menu mentah” yang bisa membuat publik “sakit perut” bahkan muntah alias kekecewaan publik dengan kerugian ada di cirra Duet Gubernur Yulius dan Wagub Victor.
Terima kasih🙏🙏🙏
Salam Hormat,
taufik m tumbelaka
Minut, 17 Oktober 2025 (Pagi)




















